Media Kampung – Dua dekade setelah Apple mengumumkan peralihan dari prosesor PowerPC ke Intel, era Intel Mac resmi berakhir dengan dirilisnya macOS 26 Tahoe. Meskipun beberapa model Intel Mac masih akan mendapatkan pembaruan keamanan dan Safari selama dua tahun ke depan, macOS 26 menjadi sistem operasi terakhir yang mendukung arsitektur Intel. Langkah ini menandai babak penutup dari kemitraan yang sempat membuat Mac jauh lebih baik, namun akhirnya justru menjadi penghambat.

Awal Mula Peralihan ke Intel

Pada tahun 2005, Apple memutuskan beralih dari PowerPC ke prosesor Intel karena berbagai keterbatasan performa dan konsumsi daya. Keputusan ini memungkinkan Mac menjalankan sistem operasi Windows secara native dan mempercepat adopsi Mac di kalangan pengguna PC. Selama bertahun-tahun, Intel Mac mendominasi lini produk Apple, dari MacBook Pro hingga Mac Pro.

Mengapa Apple Beralih Kembali?

Namun, seiring waktu, roadmap prosesor Intel tidak lagi sejalan dengan visi Apple. Keterbatasan dalam hal efisiensi energi, performa per watt, dan integrasi sistem membuat Apple mengembangkan chip sendiri berbasis ARM, yang kemudian dikenal sebagai Apple Silicon. Chip M1, M2, dan variannya menawarkan peningkatan performa dan efisiensi yang signifikan, serta memungkinkan ekosistem yang lebih terpadu antara Mac, iPhone, dan iPad.

Dampak dan Warisan Intel Mac

Meski era Intel Mac berakhir, warisannya tetap terasa. Kompatibilitas Rosetta memungkinkan aplikasi Intel berjalan di Apple Silicon, dan Apple berkomitmen memberikan dukungan keamanan hingga beberapa tahun ke depan. Bagi pengguna Intel Mac, tidak perlu khawatir karena perangkat mereka masih dapat digunakan, meskipun tidak akan mendapatkan fitur terbaru macOS.

Dengan berakhirnya dukungan penuh untuk Intel Mac, Apple kini sepenuhnya fokus pada pengembangan chip buatan sendiri. Langkah ini diyakini akan membawa Mac ke level performa dan efisiensi yang lebih tinggi, serta memperkuat posisi Apple di pasar komputasi personal.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.