Media Kampung – Program Studi Teknik Metalurgi ITB menyelenggarakan simposium internasional bertajuk “Indonesia-India-Australia Symposium on Frontiers in Hydrogen Metallurgy 2026” pada 21-22 Mei 2026 di Bandung. Acara ini mengangkat topik penggunaan hidrogen sebagai solusi utama dalam mengurangi emisi karbon pada industri metalurgi.

Simposium dihadiri oleh 126 peserta dari kalangan akademisi, peneliti, pelaku industri, dan mahasiswa dari Indonesia, India, dan Australia. Forum ini menjadi ajang penting untuk bertukar ilmu dan memperkuat kolaborasi dalam mengembangkan teknologi metalurgi berbasis hidrogen yang lebih ramah lingkungan.

Ketua Panitia, D.Sc. (Tech.) Imam Santoso, menyatakan bahwa hidrogen berpotensi menggantikan batu bara dan kokas sebagai reduktor dalam proses produksi logam. Penggunaan hidrogen menghasilkan produk samping uap air, bukan karbon dioksida, sehingga dapat menekan emisi gas rumah kaca secara signifikan.

Kebutuhan material kritis seperti litium, nikel, kobalt, dan elemen tanah jarang terus meningkat, didorong oleh pertumbuhan kendaraan listrik dan energi terbarukan. Namun, produksi logam saat ini masih banyak bergantung pada bahan bakar fosil yang menyebabkan emisi CO₂ tinggi, terutama di sektor besi dan baja yang menyumbang 7-9 persen emisi global dari bahan bakar fosil.

Simposium membahas berbagai topik strategis seperti reduksi berbasis hidrogen, hydrogen plasma metallurgy, produksi baja berkelanjutan, serta ekonomi sirkular dan pemanfaatan limbah. Pada sesi pleno pertama, para pembicara membahas teknologi hydrogen plasma smelting dan alternatif gas reduktor seperti amonia.

Prof. Zulfiadi Zulhan dari ITB mengungkapkan bahwa hampir setiap tahap produksi baja konvensional menghasilkan emisi CO₂, yang menegaskan perlunya inovasi teknologi untuk mengurangi dampak lingkungan dari industri ini.

Sesi pleno kedua menyoroti pengembangan smelter dan teknologi pemrosesan nikel yang ramah lingkungan. Taufiq Hidayat, Ph.D., menyampaikan bahwa peningkatan produksi nickel pig iron di Indonesia membawa tantangan emisi yang harus diatasi melalui teknologi rendah karbon.

Sesi ketiga membahas peta jalan teknologi baja hijau dan pengurangan emisi dari proses electric arc furnace. Dr. Arghya Majumder menegaskan bahwa kadar CO₂ atmosfer telah mencapai titik tertinggi dalam ratusan ribu tahun, sehingga transisi ke teknologi green steel menjadi kebutuhan mendesak.

Selain sesi diskusi, peserta simposium melakukan kunjungan ke laboratorium riset ITB di Bandung dan Jatinangor untuk melihat langsung fasilitas yang mendukung riset teknologi metalurgi berkelanjutan.

Acara ini melibatkan berbagai institusi akademik dan industri dari Indonesia, India, dan Australia, menandai langkah konkret menuju implementasi teknologi hidrogen dalam industri metalurgi. ITB menegaskan perannya sebagai pusat kolaborasi internasional dalam pengembangan teknologi bersih dan produksi logam rendah karbon yang mendukung transisi energi global.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.