Media KampungBungie mengumumkan pengakhiran pengembangan layanan live Destiny 2 yang mengejutkan banyak penggemar, termasuk ketidakpastian kelanjutan cerita dalam dunia game tersebut. Salah satu cerita yang kini menggantung adalah nasib Xivu Arath, antagonis favorit yang selama ini dijanjikan mendapatkan ekspansi khusus namun belum terealisasi.

Xivu Arath pertama kali diperkenalkan pada ekspansi Destiny 1, Taken King, sebagai salah satu dewa perang dari ras Hive yang memiliki peranan besar dalam mitologi game. Setelah kematian Oryx, sang Taken King, dan pengembangan karakter Savathun sebagai penjahat utama pada ekspansi Destiny 2, banyak penggemar menantikan kemunculan Xivu Arath sebagai ancaman besar berikutnya.

Selama beberapa musim di Destiny 2, seperti Season of the Deep dan Season of the Witch, Xivu Arath terus diperlihatkan sebagai figur sentral yang mengancam dunia permainan. Namun, seiring masalah internal Bungie dan dampak akuisisi oleh Sony pada tahun 2022 yang menimbulkan restrukturisasi dan pemangkasan staf, proyek ekspansi yang melibatkan Xivu Arath akhirnya batal.

Pihak Bungie memilih untuk fokus pada ekspansi lain yang justru kurang mendapat sambutan hangat dari komunitas, seperti Edge of Fate dan Renegades. Kondisi ini membuat harapan untuk bertarung langsung melawan Xivu Arath dalam ekspansi khusus semakin tipis.

Kini dengan berakhirnya pengembangan Destiny 2 dan belum adanya konfirmasi proyek Destiny 3, nasib berbagai alur cerita, termasuk Xivu Arath, masih menggantung tanpa kepastian. Pernyataan Brookes membuka wawasan baru mengenai seberapa besar usaha Bungie dalam mengembangkan narasi karakter tersebut meski akhirnya tidak terwujud.

Ke depan, para pemain Destiny mungkin harus menunggu lama atau bahkan tidak pernah lagi melihat Xivu Arath tampil sebagai antagonis utama dalam ekspansi. Ini menjadi salah satu contoh bagaimana dinamika industri game dan keputusan bisnis dapat memengaruhi pengembangan cerita yang sudah dinantikan oleh komunitas penggemar setia.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.