Media Kampung – China belum memberikan persetujuan atas penjualan chip kecerdasan buatan (AI) Nvidia meskipun Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan CEO Nvidia Jensen Huang telah melakukan kunjungan ke negara tersebut. Penjualan chip ini menjadi bagian dari upaya memperbaiki hubungan dagang yang sempat tegang antara kedua negara.
Beberapa waktu lalu, Presiden Trump bersama dengan perwakilan dari Micron, Qualcomm, dan Nvidia melakukan perjalanan ke China dengan harapan dapat membuka kembali jalur perdagangan chip AI. Amerika Serikat sudah memberikan izin penjualan chip Nvidia tipe H200 kepada 10 perusahaan di China dengan jumlah total mencapai 75.000 unit. Namun, hingga kini pemerintah China belum menyetujui transaksi tersebut.
Trump menyampaikan bahwa penolakan dari pihak China bukan karena masalah teknis, melainkan karena mereka ingin mengembangkan teknologi AI secara mandiri. Meski demikian, Trump tetap optimis bahwa diskusi yang berlangsung bisa membawa hasil positif di masa depan. Ia juga mengungkapkan bahwa dalam perbincangannya dengan Presiden China Xi Jinping, mereka membahas kemungkinan penerapan aturan pengendalian teknologi AI yang dianggap sebagai “standar guardrails” yang selama ini dibicarakan.
China sebelumnya sempat memberikan persetujuan impor chip Nvidia H200 beberapa bulan lalu, tetapi Amerika Serikat membatasi jumlah ekspor chip tersebut ke perusahaan-perusahaan di China. Proses ini menandai dinamika yang kompleks antara kedua negara dalam hal regulasi perdagangan teknologi tinggi, termasuk kebijakan pelarangan dan pencabutan pembatasan impor chip AI.
Jensen Huang, CEO Nvidia, telah lama mendukung perdagangan teknologi AI dengan China. Setelah Nvidia keluar dari pasar China akibat pembatasan impor tahun lalu, Huang menekankan pentingnya hubungan dagang yang sehat antara Amerika Serikat dan China dengan menyatakan bahwa kerugian bagi China juga bisa berimbas pada Amerika. Baru-baru ini, ia kembali mengungkapkan kekecewaannya atas hilangnya pangsa pasar Nvidia di China yang kini dianggap “nol” dan menyerukan agar Amerika Serikat meningkatkan ekspor chip AI ke China.
Penjualan chip AI tidak hanya menguntungkan Nvidia, tetapi juga memberikan pemasukan pajak bagi Amerika Serikat. Namun, kedua negara menyadari bahwa China tidak bisa mengandalkan teknologi AI Amerika secara penuh. Huang pernah menyatakan bahwa kekhawatiran mengenai militer China menggunakan chip AI Amerika seharusnya tidak berlebihan karena ketergantungan teknologi tersebut sangat terbatas.
Hingga saat ini, negosiasi dan diskusi antara Amerika Serikat dan China mengenai perdagangan chip AI masih berlangsung. Meski hasil kunjungan Trump dan Huang belum terlihat secara langsung, optimisme tetap muncul dari pihak Amerika Serikat terkait peluang kerja sama yang lebih terbuka ke depan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan