Media Kampung – Aksara Project mahasiswa Universitas Jember (UNEJ) mempersembahkan sistem pengelolaan sampah berbasis AI‑IoT yang ditujukan untuk mengurangi timbunan sampah di desa dan mengedukasi rumah tangga menuju konsep Zero Waste.
Masalah sampah rumah tangga di Indonesia terus meningkat, menambah beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan menimbulkan pencemaran serta emisi gas berbahaya.
Lima mahasiswa Program Studi Pendidikan IPA UNEJ – Aditya Satya Utama, Wilda Robiah Salsabila, Ratih Eka Saputri, Shinta Ayu Febrianti, dan Nahila Hunafa Qudsi – memutuskan mengembangkan solusi otomatis yang dapat memisahkan sampah secara akurat tanpa intervensi manusia.
Solusi mereka terdiri atas Aksa Bin, sebuah tempat sampah pintar yang dilengkapi kamera vision serta lengan pneumatik untuk menyalurkan sampah ke kompartemen yang sesuai.
Selain itu, tim mengembangkan aplikasi MyAksa yang berfungsi sebagai pusat kontrol, menampilkan status isi bin secara real‑time dan memberikan rekomendasi pengelolaan berbasis algoritma AI.
Teknologi smart vision pada Aksa Bin mampu mengenali jenis sampah organik, anorganik, dan daur ulang dengan akurasi tinggi, sementara lengan pneumatik memindahkan sampah ke ruang terpisah tanpa sentuhan.
“Aksara Project bukan sekadar alat, melainkan upaya mengubah perilaku masyarakat melalui konsep Smart Village,” ujar ketua tim Aditya Satya Utama dalam wawancara.
Tim menekankan bahwa mengatasi sampah sejak sumber, terutama di rumah tangga, adalah kunci utama untuk mencapai Zero Waste dan mendukung transformasi desa menjadi lingkungan cerdas.
Persiapan mereka berfokus pada penguasaan substansi ide, simulasi tanya‑jawab, serta penggunaan data dan fakta untuk memperkuat argumen di depan dewan juri.
Inovasi tersebut berhasil meraih Honorable Medal dan Favorite Poster pada Ignite Future Fest 2026, kompetisi nasional yang diselenggarakan oleh Futura Innovation Hub di Bandung.
Ke depan, tim berencana meluncurkan pilot project di sekolah dan komunitas lokal, serta mengembangkan Aksara Project menjadi startup sosial yang dapat diadopsi secara luas.
Mereka mengajak mahasiswa lain untuk tidak menunggu kondisi sempurna, melainkan memulai aksi inovatif demi perubahan yang berkelanjutan.
Saat ini, Aksa Bin pertama telah dipasang di dua desa sekitar Jember dan aplikasi MyAksa sedang diuji untuk meningkatkan akurasi prediksi sampah.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan