Media Kampung – Program Sayang Bumi 2026 resmi diluncurkan di SMAN 82 Jakarta Selatan pada Kamis, 12 Juni 2026. Inisiatif ini melibatkan 50 SMA di wilayah Jabodetabek untuk berkompetisi mengumpulkan sampah elektronik atau e-waste dengan target mencapai 5 ton atau 5.000 kilogram hingga November 2026.
Program ini digagas oleh perusahaan infrastruktur e-waste sirkular EwasteRJ bersama Acer Indonesia sebagai respons atas meningkatnya persoalan limbah elektronik, baik di tingkat global maupun nasional. Sampah elektronik seperti kabel, baterai, dan ponsel rusak termasuk dalam kategori limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).
Founder dan CEO EwasteRJ, Rafa Jafar, mengungkapkan bahwa gerakan ini berawal dari keresahannya sejak kecil. Ia melihat banyak perangkat elektronik rusak hanya disimpan di rumah karena masyarakat tidak memiliki wadah pembuangan yang aman. “Menjaga komitmen ini sedari saya kecil sampai saya lulus kuliah sekarang merupakan tantangan besar, tapi hari ini keresahan itu bertransformasi menjadi sistem nyata di 50 sekolah,” ujar Rafa.
Peluncuran Program Sayang Bumi 2026 bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Program ini menjadi langkah awal yang penting sebelum Pemprov DKI Jakarta memperketat aturan pemilahan sampah dan menghentikan praktik open dumping per 1 Agustus 2026. “Ketika kota baru bersiap fokus pada sampah organik dapur, sekolah-sekolah ini sudah curi start mengamankan limbah B3 elektronik yang jauh lebih berbahaya bagi air tanah Jakarta. Sayang Bumi bukan lagi program, ini masa depan yang kita jemput hari ini,” tegas Rafa.
Sementara itu, President Director Acer Indonesia, Leny Ng, menekankan pentingnya keterlibatan sekolah untuk membangun kesadaran lingkungan sejak dini. Menurutnya, generasi muda perlu dilibatkan secara langsung agar mampu memimpin perubahan dalam pengelolaan limbah elektronik. “Tahun ini kami memilih hadir di sekolah karena kami percaya bahwa generasi yang tumbuh dengan kesadaran lingkungan adalah generasi yang akan menentukan seperti apa bumi ini dua puluh hingga tiga puluh tahun ke depan. Ini bukan sekadar program, melainkan undangan bagi anak-anak muda Indonesia untuk memimpin perubahan, bukan menunggu orang lain melakukannya,” ujar Leny.
Untuk menjaga akuntabilitas, seluruh sampah elektronik yang dikumpulkan siswa melalui dropbox permanen akan ditimbang dan dicatat. Limbah tersebut kemudian dialirkan langsung ke fasilitas daur ulang berizin resmi yang bermitra dengan EwasteRJ. Selama enam tahun, program Sayang Bumi telah membuktikan bahwa perubahan nyata dimulai dari langkah kolektif yang konsisten.
Program Sayang Bumi 2026 diharapkan dapat memperkuat kesadaran siswa terhadap bahaya limbah elektronik dan mendorong aksi nyata dalam pengelolaan e-waste secara bertanggung jawab.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan