Media Kampung – Budi Jaya Putra, anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menegaskan haji dan umrah merupakan undangan khusus Allah, bukan sekadar dipengaruhi oleh kesehatan, kemampuan finansial, atau niat manusia.
Pernyataan itu disampaikan pada pengajian di Masjid KH Sudja, Yogyakarta, Senin 4 Mei, di tengah ribuan jamaah yang hadir.
Ia menambahkan bahwa Allah mengundang umat-Nya untuk menunaikan haji dan umrah sebagai bentuk ketaatan, bukan sebagai beban yang dapat diukur dengan angka.
“Kedua ibadah tersebut merupakan undangan khusus dari Allah Swt.,” tegasnya, menekankan bahwa panggilan ilahi melampaui batasan duniawi.
Pernyataan ini muncul pada saat diskusi tentang persiapan haji dan umrah menjelang musim haji 2026, di mana banyak umat Indonesia menilai kesiapan finansial menjadi prioritas utama.
Namun, Budi Jaya Putra menolak pandangan bahwa kemampuan ekonomi menjadi satu‑satunya tolak ukur kelayakan menunaikan ibadah tersebut.
Ia mengingatkan bahwa Islam selalu menekankan niat yang ikhlas serta kepercayaan pada rahmat Allah dalam setiap tindakan ibadah.
Sebagai lembaga keagamaan terbesar di Indonesia, Muhammadiyah memiliki peran penting dalam memberikan bimbingan spiritual kepada umat, termasuk dalam menafsirkan makna haji dan umrah.
Majelis Tarjih dan Tajdid, tempat Budi Jaya Putra bernaung, secara rutin mengadakan kajian untuk memperdalam pemahaman tentang syariat Islam.
Pengajian di Masjid KH Sudja tersebut dihadiri oleh tokoh lokal, aktivis dakwah, serta masyarakat umum yang antusias mendengarkan penjelasan tentang kedudukan haji dan umrah dalam kehidupan beragama.
Para peserta mencatat bahwa penekanan pada “undangan khusus” membuka ruang bagi mereka yang masih meragukan kemampuan fisik atau finansial untuk tetap berusaha menunaikan ibadah.
Kajian tersebut juga menyinggung pentingnya persiapan mental dan spiritual, selain persiapan fisik, sebagai bagian integral dari perjalanan suci.
Budi Jaya Putra menegaskan bahwa Allah tidak membebani seseorang di luar kemampuannya, sehingga umat harus mengandalkan doa serta usaha maksimal dalam menghadapi tantangan.
Ia juga menyoroti bahwa pemerintah dan lembaga terkait tetap berperan dalam memfasilitasi pelaksanaan ibadah haji dan umrah dengan prosedur yang adil.
Namun, inti pesan beliau tetap pada panggilan ilahi yang melampaui segala pertimbangan duniawi.
Pernyataan ini mendapat respons positif dari jamaah, yang menyatakan rasa lega karena mendapat penegasan bahwa haji dan umrah bukan sekadar beban ekonomi.
Beberapa peserta mengaku akan meninjau kembali rencana perjalanan mereka dengan menambahkan elemen spiritual yang lebih kuat.
Pengajian tersebut diakhiri dengan doa bersama agar Allah memudahkan setiap Muslim yang berniat menunaikan haji atau umrah, serta melimpahkan keberkahan bagi mereka.
Hingga saat ini, tidak ada perubahan jadwal haji nasional, sehingga umat dapat menyiapkan diri sesuai anjuran yang telah disampaikan.
Kegiatan serupa diharapkan terus berlanjut, mengingat pentingnya pemahaman mendalam tentang makna ibadah dalam konteks kontemporer.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.






Tinggalkan Balasan