Media Kampung – 15 April 2026 | Saatnya Dam Membumi: Mengalirkan Berkah Haji dari Tanah Suci ke Negeri Sendiri menjadi agenda utama Muhammadiyah dalam rangka memanfaatkan momentum ibadah haji untuk pemberdayaan ekonomi lokal.

Inisiatif ini digagas oleh Wahyudi Nasution, Pengurus Majelis Pemberdayaan Masyarakat Muhammadiyah, bersama Penggerak Jamaah Tani (JATAM) dan Katua LP-UMKM PDM Klaten.

Program Dam Membumi menargetkan pembangunan infrastruktur irigasi berupa bendungan kecil di beberapa daerah pertanian Jawa Tengah, khususnya Kabupaten Klaten.

Bendungan direncanakan dapat menampung air hujan sebesar 12 juta meter kubik, cukup untuk menyirami lahan seluas 2.500 hektar per musim.

Dengan aliran air yang stabil, petani diharapkan dapat meningkatkan produksi padi, jagung, dan sayuran hingga 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Peningkatan produksi ini diharapkan menurunkan tingkat kemiskinan petani sebesar 5 poin persentase pada akhir 2027.

Program ini juga mengintegrasikan pelatihan manajemen usaha bagi jamaah haji yang kembali ke desa masing-masing.

Wahyudi Nasution menyatakan, “Setiap langkah haji harus membawa manfaat nyata bagi tanah air, bukan hanya ibadah pribadi.”

Kutipan tersebut menegaskan komitmen organisasi untuk mengalirkan berkah haji ke sektor ekonomi domestik.

Dana awal program berasal dari zakat, infaq, dan sumbangan sukarela jamaah haji yang berjumlah sekitar Rp 150 miliar.

Sebagian dana tersebut dialokasikan untuk pengadaan peralatan pertanian modern, seperti traktor berbahan bakar bio-diesel.

Selain itu, LP-UMKM PDM Klaten akan menyalurkan bantuan modal usaha kepada 500 UKM pertanian selama tiga tahun ke depan.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa sektor pertanian di wilayah Klaten menyumbang 12,3 persen PDRB pada 2025.

Dengan dukungan infrastruktur air, kontribusi sektor tersebut diproyeksikan naik menjadi 15 persen pada 2030.

Program Dam Membumi juga berkolaborasi dengan Lembaga Pengembangan Desa (LPD) untuk memperkuat jaringan pasar lokal.

Produk pertanian yang dihasilkan akan dipasarkan melalui platform digital Muhammadiyah, mempermudah akses ke konsumen nasional.

Strategi pemasaran digital ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani rata-rata sebesar Rp 2,5 juta per tahun.

Implementasi proyek dimulai pada bulan Mei 2026, dengan fase pertama meliputi survei lokasi dan perizinan.

Konstruksi bendungan diperkirakan selesai pada akhir Desember 2026, sesuai jadwal yang telah disepakati bersama pemerintah daerah.

Pengawasan mutu dan keamanan dilakukan oleh tim teknis dari Fakultas Teknik Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.

Tim tersebut juga memberikan pelatihan operasional kepada warga setempat untuk memastikan keberlanjutan pengelolaan dam.

Selama periode haji 2026, lebih dari 150.000 jamaah Indonesia diperkirakan akan berpartisipasi dalam program donasi dam.

Setiap jamaah yang berkontribusi akan menerima sertifikat penghargaan digital sebagai bukti partisipasi sosial.

Pihak Muhammadiyah menegaskan bahwa tidak ada penyaluran dana kepada pihak ketiga tanpa transparansi akuntabel.

Laporan keuangan program akan dipublikasikan secara berkala di portal resmi organisasi.

Kondisi terbaru menunjukkan bahwa 40 persen dana telah terkumpul, dan proses tender konstruksi sudah memasuki tahap evaluasi.

Para pemangku kepentingan menilai proyek ini sebagai contoh sinergi antara ibadah dan pembangunan ekonomi berkelanjutan.

Jika berhasil, model Dam Membumi dapat direplikasi di provinsi lain dengan karakteristik tanah yang serupa.

Harapan besar masyarakat lokal adalah terwujudnya kesejahteraan yang lebih merata pasca penyelesaian proyek.

Dengan komitmen kuat dari Muhammadiyah, pemerintah daerah, dan jamaah haji, langkah dam membumi diharapkan menjadi warisan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.