Surabaya 733 Tahun Kota Hebat, Tapi Belum Semua Warga Ikut Naik Kelas
Media Kampung – Pada 31 Mei 2026, Kota Surabaya merayakan usia ke-733 tahun. Kota ini dikenal sebagai salah satu kota besar di Indonesia yang berhasil menjaga stabilitas di tengah dinamika urbanisasi yang cepat. Surabaya tampil sebagai kota yang tertata rapi, relatif bersih, dan efisien dalam pelayanan publik, bahkan sering dijadikan benchmark tata kelola perkotaan di tingkat nasional. Namun, perayaan hari jadi ke-733 ini juga mengingatkan kita pada sebuah kenyataan penting: Surabaya 733 Tahun Kota Hebat, Tapi Belum Semua Warga Ikut Naik Kelas.
Kekuatan Ekonomi dan Pertumbuhan yang Stabil
Dari sisi ekonomi, Surabaya menunjukkan kekuatan yang signifikan. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) kota ini mencapai ratusan triliun rupiah dengan pertumbuhan yang hampir 6 persen. Hal ini menandakan mesin ekonomi Surabaya terus berjalan stabil dan berkontribusi besar terhadap perekonomian Jawa Timur secara keseluruhan.
Realitas Kemiskinan dan Kerentanan Sosial
Meski demikian, pertumbuhan ekonomi tersebut belum serta-merta diikuti oleh pemerataan kesejahteraan. Data dari BPS Kota Surabaya per Maret 2025 mencatat angka kemiskinan sekitar 3,56 persen atau lebih dari 100 ribu jiwa yang masih berada di bawah garis kemiskinan. Angka ini memang tergolong rendah untuk ukuran kota besar, tetapi persoalan kemiskinan di perkotaan bukan hanya soal jumlah, melainkan juga kedalaman dan kerentanan.
Batas garis kemiskinan yang berada di kisaran Rp 775 ribu per kapita per bulan memperlihatkan bahwa perbedaan antara miskin dan tidak miskin sangat tipis. Kelompok near-poor atau rentan miskin yang berada sedikit di atas garis kemiskinan ini sangat sensitif terhadap guncangan ekonomi seperti kenaikan harga pangan, kehilangan pekerjaan informal, atau beban kesehatan keluarga. Dengan kata lain, penurunan angka kemiskinan tidak otomatis menghilangkan kerentanan sosial yang ada.
Ketimpangan yang Terselubung dalam Kota
Ketimpangan sosial-ekonomi juga menjadi tantangan tersendiri. Gini ratio Jawa Timur sekitar 0,359 menunjukkan tingkat ketimpangan sedang, tetapi angka ini hanya menangkap gambaran permukaan. Dalam konteks Surabaya sebagai kota metropolis, ketimpangan sering kali hadir dalam bentuk perbedaan akses terhadap peluang, seperti pekerjaan formal versus informal, kawasan kota modern versus permukiman padat, serta akses layanan digital dan non-digital.
Fenomena ini disebut sebagai hidden inequality, yaitu ketimpangan yang tidak selalu terlihat dalam angka statistik namun dirasakan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari warga kota. Surabaya menjadi kota yang berhasil menjaga stabilitas makro, namun masih dihadapkan pada fragmentasi sosial di level mikro.
Dual City Phenomenon: Kota Modern dan Kota Informal
Dari sisi tata ruang, Surabaya dikenal sebagai kota dengan penataan ruang yang baik, dengan ruang terbuka publik, taman kota, dan infrastruktur jalan yang memadai. Namun di balik wajah modern tersebut, terdapat permukiman padat, gang sempit, dan kawasan urban informal yang memiliki dinamika ekonomi serta sosial yang berbeda.
Kondisi ini menggambarkan fenomena dual city, di mana satu kota memuat dua realitas sekaligus: kota modern yang terkoneksi dengan ekonomi formal dan kota informal yang bertumpu pada ekonomi harian dan rentan secara sosial-ekonomi. Surabaya menjadi contoh klasik bagaimana pertumbuhan kota besar di negara berkembang selalu diiringi oleh diferensiasi ruang dan sosial.
Keamanan dan Ketertiban dalam Perspektif Sosial
Pembahasan mengenai keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) juga tidak bisa dilepaskan dari isu ketimpangan sosial. Statistik kriminalitas sering kali tidak menggambarkan secara penuh kondisi keamanan aktual. Surabaya, meskipun memiliki angka kriminalitas yang stabil atau menurun, tetap menghadapi kerawanan struktural akibat faktor ekonomi, kepadatan penduduk, dan fragmentasi sosial.
Teori routine activity menjelaskan bagaimana struktur aktivitas harian kota dapat menciptakan atau mengurangi peluang terjadinya pelanggaran. Selain itu, urban inequality hypothesis menegaskan bahwa ketimpangan sosial yang tinggi dapat meningkatkan potensi konflik mikro dalam kehidupan perkotaan. Dengan demikian, Surabaya bukan sekadar kota yang aman atau tidak, melainkan kota dengan distribusi risiko sosial yang tidak merata, dimana ada ruang yang sangat aman dan ruang yang lebih rentan secara sosial dan ekonomi.
Refleksi dan Tantangan ke Depan
Perayaan Hari Jadi Kota Surabaya ke-733 menjadi momen reflektif untuk melihat lebih dalam bagaimana keberhasilan kota ini diukur dan dipahami. Selama ini, keberhasilan sering diukur dari indikator agregat seperti pertumbuhan ekonomi, penurunan kemiskinan, dan pembangunan infrastruktur. Namun, pendekatan tersebut memiliki keterbatasan dalam menghadapi kompleksitas realitas urban yang berkembang.
Surabaya 733 Tahun Kota Hebat, Tapi Belum Semua Warga Ikut Naik Kelas menunjukkan bahwa kota ini telah melampaui tahap hanya menjadi besar, namun masih berproses menuju pertumbuhan yang inklusif dan setara. Tantangan ke depan adalah memastikan bahwa pertumbuhan tersebut dapat dinikmati secara luas oleh seluruh warga, tanpa meninggalkan kelompok rentan dan terpinggirkan.
Masa depan Surabaya akan ditentukan oleh kemampuan kota ini untuk menyelaraskan kemajuan ekonomi dengan keadilan sosial, serta mengatasi fragmentasi ruang dan sosial yang ada. Dengan semangat bergerak dan berdampak, Surabaya diharapkan dapat terus berkembang menjadi kota yang tidak hanya hebat dalam pertumbuhan, tetapi juga adil dan inklusif bagi seluruh warganya.
Selamat Hari Jadi Kota Surabaya ke-733. Terus bergerak, terus berdampak.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan