Media Kampung – Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya menggelar kuliah tamu internasional yang membahas jejak arsitek modern Hendrik Petrus Berlage di Indonesia, khususnya pada bangunan bersejarah Gedung Singa di Surabaya. Kegiatan ini berlangsung pada Senin (18/5/2026) di Auditorium Lantai 6 R. Ing. Soekonjono Untag Surabaya dan dihadiri oleh mahasiswa serta akademisi Program Studi S1 Arsitektur.

Petra Timmer, seorang peneliti dari TiMe Amsterdam, menyampaikan materi yang menyoroti keterlibatan masyarakat lokal dalam pembangunan Gedung Singa yang awalnya dianggap sebagai karya kolonial Belanda. Petra menemukan dokumen langka yang mencatat secara rinci nama-nama orang Indonesia yang turut bekerja, termasuk jenis pekerjaan dan upah mereka selama proses pembangunan gedung tersebut.

Lebih jauh, Petra menjelaskan pentingnya memahami bangunan kolonial seperti Gedung Singa bukan hanya sebagai peninggalan Belanda, melainkan sebagai bagian dari sejarah dan identitas Surabaya. Ia mengatakan, “Awalnya mungkin merupakan bangunan kolonial Belanda, tetapi setelah sekian lama berada di Surabaya, kini menjadi warisan Surabaya dan Indonesia. Bangunan itu menyimpan cerita masyarakat yang hidup dan bekerja di dalamnya.” Pernyataan ini menegaskan bahwa Gedung Singa telah melebur menjadi simbol kebudayaan lokal.

Petra juga menekankan peran mahasiswa arsitektur dalam merekonstruksi sejarah kota melalui kajian mendalam terhadap bangunan bersejarah dan arsip yang ada. Ia mengingatkan bahwa arsitektur bukan sekadar pekerjaan teknis, melainkan harus diiringi dengan kesadaran sosial. “Arsitektur adalah bagian dari kota. Bangunan mungkin dibuat untuk bank atau perusahaan tertentu, tetapi pada akhirnya menjadi milik semua orang karena mereka melihat, menggunakan, dan hidup bersama bangunan itu,” ujarnya.

Moderator kegiatan, Arsitek Yayan Indrayana dari Begandring Surabaya, menambahkan bahwa Berlage dikenal sebagai tokoh penting arsitektur modern yang menggunakan pendekatan kolaboratif dengan melibatkan berbagai disiplin seni, seperti pematung dan pelukis, dalam setiap proyeknya. Pendekatan ini bertujuan untuk menggabungkan unsur seni dan budaya sehingga karya arsitektur tidak hanya berfungsi secara teknis tetapi juga memiliki nilai emosional dan identitas yang kuat.

Yayan menilai konsep kolaborasi lintas seni ini relevan bagi generasi muda arsitek masa kini. Ia mengatakan, “Arsitektur bukan sekadar membangun gedung, tetapi juga menghadirkan rasa dan identitas. Itu yang bisa dipelajari mahasiswa dari pemikiran Berlage.” Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya mengintegrasikan nilai budaya dalam praktik arsitektur kontemporer.

Pelaksanaan kuliah internasional ini menjadi momen penting untuk mengangkat kembali sejarah dan nilai budaya yang terkandung di Gedung Singa Surabaya. Kegiatan tersebut diharapkan dapat menstimulasi minat mahasiswa dalam melestarikan dan memahami warisan arsitektur sebagai bagian dari identitas kota dan bangsa.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.