Media Kampung – Pembangunan citra kota menjadi strategi penting pemerintah daerah dalam meningkatkan perekonomian melalui destinasi wisata, event, dan daya tarik investasi. Dalam Workshop Region City Branding yang digelar di Gedung Pusat Desain Industri Nasional Yogyakarta pada Sabtu (23/5), berbagai pihak membahas bagaimana kampus turut berperan dalam memperkuat branding daerah.

Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. dr. Ova Emilia, menyoroti pentingnya keselarasan identitas antara institusi pendidikan dengan karakter daerahnya. Ia mencontohkan hubungan antara UGM yang mengusung nilai kerakyatan dengan citra Yogyakarta yang dikenal dekat dengan masyarakat. Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) menjadi salah satu media yang efektif untuk mengaktualisasikan karakter tersebut di tingkat akar rumput.

Selain itu, Ova menekankan perlunya kolaborasi antar perguruan tinggi lokal melalui program gelar ganda (double degree) yang difasilitasi oleh regulasi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Strategi tersebut diharapkan dapat menanggulangi fenomena pelarian talenta (brain drain) dari daerah ke kota besar dengan meningkatkan kualitas dan daya tarik pendidikan di wilayah masing-masing.

Inisiator Jogja Istimewa, Arief Budiman, menambahkan bahwa proses city branding sering terkendala oleh birokrasi dan sinkronisasi anggaran. Ia menegaskan bahwa branding harus disertai dengan program nyata agar berdampak langsung pada pengembangan potensi daerah dan pendapatan asli daerah melalui peran Bappeda di pemerintah daerah.

Board of Creative Ngayogjazz, Ajie Wartono, membagikan pengalamannya dalam mengelola festival musik yang berpindah-pindah desa sejak 2007. Ia menekankan pentingnya memanfaatkan ruang hidup masyarakat yang aktif secara sosial untuk menjamin keberlanjutan sebuah event lokal. Ngayogjazz tidak hanya menjadi hiburan, tapi juga melibatkan warga desa dalam pengelolaan sekaligus meningkatkan pendapatan desa.

Ajie juga menggarisbawahi pentingnya menggali narasi unik dari setiap desa sebagai bahan branding yang relevan untuk menarik perhatian generasi muda. Ia menyebut banyak desa yang belum menyadari potensi khasnya, sehingga perlu diarahkan agar dapat mengembangkan identitas yang kuat, seperti contoh Badui di Lebak yang memiliki karakter khas dalam kegiatan mereka.

Diskusi dalam workshop ini menunjukkan bahwa kampus memegang peran strategis dalam membangun citra kota melalui integrasi program sosial, pendidikan, dan budaya yang berkesinambungan. Dengan kolaborasi antara institusi pendidikan, pemerintah daerah, dan masyarakat, city branding dapat menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi lokal sekaligus pelestarian identitas daerah.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.