Media Kampung – Ribuan buruh dan mahasiswa melakukan aksi May Day di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah, Semarang, pada Jumat 1 Mei 2026. Demonstrasi berlangsung damai hingga petang, dengan semua aspirasi terserap oleh Gubernur Ahmad Luthfi.
Menurut data yang diberikan oleh Tim Advokasi Buruh Jawa Tengah, massa aksi diperkirakan mencapai 1.200 orang, mencakup perwakilan dari Semarang, Pemalang, Pati, Tegal, Blora, Jepara, dan Banjarnegara. Mereka membentangkan spanduk yang menyoroti 11 tuntutan, termasuk penghapusan upah murah, penolakan outsourcing, serta penurunan tarif ojek online sebesar 10 persen.
Gubernur Ahmad Luthfi tiba di lokasi sekitar pukul 09.00 WIB, menyapa massa, dan menyatakan rasa terima kasih atas pelaksanaan aksi yang aman. Ia berkata, “Terima kasih bahwa pelaksanaan May Day di 35 kabupaten/kota berjalan tertib dan aman. Rasa aman merupakan investasi di Jawa Tengah.”
Saat berbicara, Luthfi menegaskan komitmen pemerintah provinsi untuk menindaklanjuti aspirasi buruh. “Semua saya terima, saya akomodir, saya berikan semangat. Kami memiliki desk tenaga kerja, Polda Jateng yang siap mengawal, serta penegakan hukum bila hak buruh tidak terpenuhi,” ujarnya.
Dialog lanjutan antara Gubernur dan perwakilan buruh menghasilkan rangkuman beberapa tuntutan utama: kompensasi PHK, fasilitas transportasi khusus bagi pekerja, penghapusan sistem tenaga alih daya, dan peningkatan pengawasan perusahaan media. Tuntutan tersebut juga mencakup program pendidikan murah bagi anak-anak buruh serta penegasan regulasi bagi tenaga kerja difabel.
Selain itu, Luthfi menyoroti program pemerintah yang sudah berjalan, seperti pembentukan ratusan koperasi karyawan dan daycare, insentif transportasi melalui Trans Jateng, serta program perumahan bagi pekerja. “Buruh adalah embrio dalam membangun Jawa Tengah,” pungkasnya.
Pengamanan aksi dilakukan oleh Polda Jateng dan Satpol PP, yang menyiapkan pos keamanan di sekitar kantor gubernur. Tidak ada laporan penangkapan atau penyitaan barang berbahaya selama aksi, menandakan keberhasilan koordinasi keamanan antara aparat dan penyelenggara aksi.
Latar belakang aksi May Day 2026 di Jawa Tengah berhubungan dengan keputusan Mahkamah Konstitusi Nomor 168/PUU-XXI/2023, yang menuntut pembentukan Undang-Undang Ketenagakerjaan baru terpisah dari Omnibus Law. Pemerintah provinsi berjanji akan menyusun regulasi tersebut sebelum batas akhir 31 Oktober 2026.
Para pengamat menilai aksi damai ini mencerminkan perubahan pola aksi buruh di Indonesia, yang kini lebih menekankan dialog konstruktif daripada konfrontasi. Keberhasilan aksi di Semarang menjadi contoh bagi provinsi lain dalam mengelola peringatan Hari Buruh Internasional.
Sejumlah media lokal, termasuk Republika.co.id, melaporkan bahwa aksi tidak menimbulkan gangguan lalu lintas maupun kerusuhan. Penduduk sekitar melaporkan suasana tenang, dengan hanya terdengar orasi dan musik latar dari para peserta.
Setelah konferensi pers singkat, Gubernur Luthfi kembali ke kantor gubernur dan melanjutkan agenda kerja. Ia menegaskan bahwa hasil diskusi hari itu akan dijadikan bahan pertimbangan dalam perumusan kebijakan ketenagakerjaan provinsi.
Keberlanjutan dialog dipastikan melalui pembentukan forum koordinasi antara perwakilan buruh, mahasiswa, dan pemerintah provinsi. Forum tersebut dijadwalkan akan bertemu pertama kali pada pertengahan Juni 2026 untuk meninjau progres tuntutan yang telah disampaikan.
Dengan berakhirnya aksi pada sore hari tanpa insiden, May Day Jateng 2026 mencatat catatan positif dalam upaya memperkuat hubungan industrial di wilayah tersebut. Pemerintah provinsi berkomitmen melanjutkan dialog terbuka demi kesejahteraan tenaga kerja di Jawa Tengah.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan