Media Kampung – 16 April 2026 | Jembatan Putus di Pante Kera, Warga Kesulitan Akses menimbulkan hambatan signifikan bagi mobilitas penduduk di kecamatan Pante Kera, Aceh Timur.
Jembatan yang menghubungkan desa Pante Kera dengan kampung sebelah runtuh pada akhir tahun 2023 setelah hujan lebat meluluh fondasinya.
Kerusakan tersebut memaksa warga mengandalkan perahu kecil atau menyeberang di atas batu (getek) untuk melintasi Sungai Peusangan.
Setiap kali melintasi sungai, warga harus menunggu arus tenang, yang sering kali memakan waktu lebih dari satu jam.
“Kami harus menyeberang dengan perahu setiap pagi untuk pergi ke sekolah, namun kadang perahu tidak tersedia karena cuaca,” ujar Bapak Ahmad, kepala RT setempat.
Jarak tempuh alternatif yang melewati jalur darat mencapai 12 kilometer, menambah beban transportasi bagi petani dan pedagang lokal.
Pelajar di Pante Kera terpaksa menempuh perjalanan lebih lama, sehingga tingkat kehadiran di sekolah menurun hingga 15 persen pada semester terakhir.
Pedagang pasar tradisional kehilangan pendapatan rata-rata 30 persen karena sulit mengangkut hasil pertanian ke pusat kota Lhokseumawe.
Tenaga medis di puskesmas terdekat mengalami keterlambatan dalam penanganan kasus darurat, khususnya pada malam hari.
Bupati Aceh Timur, Ir. H. Zaini Abdullah, menyatakan pemerintah provinsi telah mencatat kerusakan dan akan mengirim tim survei dalam dua minggu ke depan.
Rencana perbaikan mencakup pembangunan jembatan gantung dengan lebar 5 meter dan panjang 60 meter, yang diharapkan dapat menampung kendaraan ringan hingga sedang.
Anggaran awal yang diajukan mencapai Rp 12 miliar, dengan sumber dana berasal dari APBD tahun 2025 dan bantuan pemerintah pusat.
Pemerintah menargetkan selesai pada kuartal ketiga tahun 2025, namun mengakui tantangan logistik mengingat medan berbukit dan curah hujan tinggi.
Warga membentuk koalisi “Aksi Pante Kera” untuk menekan percepatan pembangunan, mengadakan rapat bulanan dan mengumpulkan dana solidaritas.
Lembaga swadaya masyarakat (LSM) “Peduli Infrastruktur Pedesaan” menawarkan bantuan teknis dalam perencanaan struktur jembatan yang tahan gempa.
Kasus serupa pernah terjadi di desa Baiturrahman, Aceh Besar, di mana perbaikan memakan waktu satu tahun lebih lama dari estimasi awal.
Pengalaman tersebut menjadi pelajaran bagi otoritas daerah untuk meningkatkan koordinasi antar instansi dan mempercepat proses perizinan.
Para pemangku kepentingan menyerukan transparansi penggunaan dana dan pelibatan masyarakat dalam pengawasan pelaksanaan proyek.
Hingga akhir Maret 2026, tim survei telah menyelesaikan studi kelayakan dan menyerahkan rekomendasi teknis kepada dinas PUPR.
Kondisi jembatan masih belum dapat dilalui, sehingga warga terus mengandalkan perahu dan getek sebagai satu-satunya alternatif.
Dengan upaya bersama antara pemerintah, LSM, dan masyarakat, diharapkan akses jalan di Pante Kera dapat pulih dalam waktu dekat, mengurangi beban sosial ekonomi yang selama ini menumpuk.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan