Media Kampung – Reboisasi Puncak Sriti dilaksanakan pada 12 Februari 2026 dengan menanam 500 pohon beringin dan sukun untuk memperkuat fungsi resapan air di Lumajang.

Kegiatan ini digelar di Dusun Jagokereng, Kecamatan Pronojiwo, oleh Komunitas Pecinta Lingkungan Desa Tamanayu bersama aparat daerah.

Desa Jagokereng mengalami penurunan debit mata air akibat hutan yang semakin gundul, sehingga warga kesulitan mengakses air bersih secara rutin.

Hertutik, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lumajang, menilai penanaman pohon di daerah hulu sebagai langkah strategis menjaga kelangsungan sumber air.

“Penanaman pohon merupakan langkah strategis untuk memulihkan fungsi hutan sekaligus menjaga keberlangsungan sumber mata air,” ujar Hertutik.

Acara dimulai dengan apel bersama yang dipimpin Kapolsek Pronojiwo, AKP Soegeng Susanto, dihadiri unsur Forkopimca, kepala desa, dan warga setempat.

Peserta meliputi perwakilan desa Tamanayu, desa Sumberurip, serta anggota komunitas pecinta lingkungan yang berkomitmen pada pelestarian alam.

Jenis beringin dan sukun dipilih karena akar kuat serta kemampuan menyimpan air yang tinggi, cocok untuk daerah resapan.

Kedua tanaman tersebut juga mampu menahan erosi tanah dan meningkatkan kelembapan mikroklimat di kawasan hulu.

Kapolsek Pronojiwo menegaskan, “Upaya seperti ini bukan sekadar seremonial, melainkan investasi untuk generasi mendatang.”

Ia menambahkan bahwa kolaborasi berkelanjutan antara masyarakat, pemerintah, dan aparat sangat diperlukan untuk menjaga hutan.

Penanaman pohon diharapkan dapat meningkatkan infiltrasi air tanah, mengurangi limpasan permukaan, serta menstabilkan aliran sungai.

Masyarakat setempat diperkirakan akan merasakan pasokan air yang lebih stabil dalam jangka menengah setelah pohon tumbuh dewasa.

Sebelumnya, wilayah ini mengalami degradasi hutan akibat penebangan liar dan konversi lahan pertanian.

Komunitas Pecinta Lingkungan berperan aktif dalam menggalang dukungan serta mengedukasi warga tentang pentingnya hutan sebagai penyangga air.

Pemerintah daerah menyiapkan program pemantauan pertumbuhan pohon selama tiga tahun ke depan untuk memastikan keberhasilan proyek.

DLH Kabupaten Lumajang akan menyediakan tenaga ahli dan peralatan pemeliharaan untuk memastikan tingkat survival tinggi.

Pendukung lain termasuk Dinas Pertanian yang membantu penyuluhan teknik penanaman dan perawatan pohon.

Proyek ini selaras dengan upaya regional memperkuat ketahanan air menghadapi perubahan iklim dan peningkatan kebutuhan air bersih.

Perubahan iklim meningkatkan frekuensi kekeringan, sehingga restorasi hutan menjadi prioritas dalam strategi mitigasi.

Warga Jagokereng menyambut baik inisiatif ini dan berjanji menjaga pohon yang telah ditanam.

Beberapa anak sekolah ikut serta dalam penanaman, menjadikan kegiatan ini sarana edukasi lingkungan bagi generasi muda.

Visi jangka panjang mencakup pembentukan zona hijau yang berkelanjutan dan memperluas area resapan ke desa sekitarnya.

Kepala Desa Tamanayu menegaskan komitmen desa untuk terus melestarikan hutan dan mendukung program serupa di masa depan.

Proyek serupa telah berhasil di wilayah lain di Jawa Timur, memberikan contoh praktik terbaik bagi Lumajang.

Beberapa tantangan meliputi pemeliharaan awal, ancaman kebakaran, dan kebutuhan air untuk bibit muda.

Tim lapangan telah menyiapkan sistem irigasi sederhana serta patroli rutin untuk mengatasi tantangan tersebut.

Hingga kini, semua 500 pohon telah ditanam dan dipelihara, dengan tingkat survival awal mencapai 90 persen.

Keberhasilan ini menandai langkah penting dalam mengembalikan fungsi ekologis Puncak Sriti dan memastikan ketersediaan air bersih bagi masyarakat.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.