Media Kampung – 12 April 2026 | Banjir bandang dan tanah longsor kembali melanda beberapa wilayah di Aceh Tengah pada Rabu (12/04/2026), menimbulkan isolasi pada sejumlah desa dan memutus akses jalan serta jembatan utama.
Curah hujan intensitas tinggi yang tercatat mencapai 150 mm dalam 24 jam memicu meluapnya sungai‑sungai kecil serta menggerakkan massa tanah pada lereng‑lereng yang tidak stabil.
Kerusakan infrastruktur meliputi tiga jembatan utama yang runtuh, dua jalan provinsi yang terputus, serta jaringan listrik yang terganggu di lima desa.
Tim SAR daerah berhasil mengevakuasi 2.300 orang menggunakan perahu karet dan truk lapis baja, namun proses penyelamatan masih terhambat oleh lumpur tebal.
Majelis Ulama Indonesia (MPU) melalui ketua Dewan Nasionalnya, KH. Ahmad Sahroni, menegaskan perlunya penanganan yang serius dan terkoordinasi dari pemerintah pusat.
“Kami mendesak agar bantuan logistik, tenaga medis, dan tim teknis segera diarahkan ke daerah yang terisolasi,” ujar KH. Ahmad dalam konferensi pers pada sore hari.
Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Aceh Tengah, KH. Abdul Basir, menambahkan bahwa komunitas Muslim setempat siap menggalang dana serta penyediaan makanan bagi korban.
“Kita tidak boleh menunggu lama, karena setiap jam penundaan meningkatkan risiko kehilangan nyawa dan harta benda,” tegas KH. Abdul.
Pemerintah Provinsi Aceh menyatakan telah mengirimkan 15 ton bahan bakar, 2.000 liter air bersih, dan 500 paket sembako ke titik distribusi terdekat.
Namun, pejabat setempat mengakui bahwa distribusi masih terhambat oleh jalan yang terputus dan ketersediaan kendaraan berat.
Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan hujan lebat akan terus berlanjut selama tiga hari ke depan, meningkatkan potensi banjir lanjutan.
Kondisi geografis Aceh Tengah yang didominasi oleh dataran tinggi dan cekungan sungai membuat wilayah ini rawan terhadap banjir bandang dan longsor.
Kejadian serupa terjadi pada awal tahun 2024, ketika lebih dari 8.000 orang mengungsi akibat banjir yang melanda Kabupaten Bireuen, menyoroti perlunya sistem peringatan dini yang lebih efektif.
Pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah menyiapkan tim gabungan yang akan tiba pada malam ini untuk membantu pemulihan.
Tim tersebut terdiri dari ahli geoteknik, insinyur sipil, serta tenaga medis yang akan melakukan penilaian cepat pada jalur evakuasi dan fasilitas kesehatan sementara.
Masyarakat setempat juga diminta untuk tidak kembali ke rumah yang masih berada di zona bahaya hingga otoritas mengeluarkan pernyataan aman.
Sampai saat ini, situasi di Aceh Tengah masih dinyatakan kritis, dengan puluhan rumah rusak, akses transportasi terbatas, dan kebutuhan bantuan yang terus meningkat.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan