Media Kampung – 17 April 2026 | Delapan rupang dewa‑dewi berkumpul di Klenteng Hoo Tong Bio Banyuwangi dalam rangka perayaan hari jadi ke‑242, menjadikan acara tersebut sorotan utama bagi komunitas Tionghoa di wilayah timur Jawa. Acara tersebut dilaksanakan pada Kamis, 16 April 2026, dan dilanjutkan dengan sembahyang bersama pada Jumat, 17 April 2026.

Sebanyak delapan rupang berasal dari klenteng‑klenteng di Jember, Lombok, Madiun, Pamekasan, Bangkalan, dan Surabaya, serta dua rupang tambahan yang tidak disebutkan asalnya. Semua benda suci tersebut ditempatkan pada altar Yang Mulia Kongco Tan Hu Cin Jin sebagai tuan rumah acara.

Pengurus klenteng setempat, Alexander, menjelaskan bahwa pengumpulan rupang ini pertama kali dilakukan di Banyuwangi, sementara tradisi serupa biasanya berlangsung di Jawa Tengah. Ia menambahkan bahwa kehadiran rupang dari berbagai daerah mencerminkan keberagaman kepercayaan dalam tradisi Tionghoa Indonesia.

“Rupang‑rupang itu berasal dari berbagai daerah, seperti Jember, Lombok, Madiun, Pamekasan, Bangkalan, dan Surabaya,” ujar Alexander pada 16 April 2026. Kata‑katanya menegaskan pentingnya partisipasi lintas wilayah dalam peribadatan bersama.

Awalnya peringatan hari jadi klenteng dijadwalkan pada bulan Maret, namun karena berdekatan dengan kegiatan lain, panitia memutuskan menunda hingga April. Penundaan tersebut memungkinkan koordinasi lebih luas dengan klenteng‑klenteng mitra.

Konsep acara tahun ini mengusung tradisi “euni kimsin”, di mana tiap klenteng membawa rupang masing‑masing sebagai bentuk kontribusi dalam ibadah kolektif. Berbeda dengan peribadatan biasa, tradisi ini menekankan partisipasi aktif dan pertukaran budaya antar komunitas.

Seluruh rupang ditempatkan secara rapi di altar utama, yang dihiasi dengan simbol‑simbol keagamaan dan lampu‑lampu dupa. Prosesi penyambutan dilakukan oleh para pengurus klenteng setempat dengan khidmat, menandakan rasa hormat terhadap masing‑masing dewa‑dewi.

Penyelenggaraan acara ini bertujuan mempererat hubungan antar pengurus dan umat klenteng dari berbagai daerah, sekaligus membuka ruang dialog antar kepercayaan. Menurut Alexander, pertemuan yang lebih lama ini memberi kesempatan bagi peserta untuk saling mengenal secara mendalam.

“Jika biasanya mereka hanya datang sehari, kali ini bisa berkumpul lebih lama, sembahyang bersama, dan saling mengenal,” kata Alexander. Pernyataan tersebut mencerminkan harapan agar jaringan antar klenteng menjadi lebih solid di masa depan.

Rupang yang dipamerkan memperlihatkan beragam dewa utama seperti Tan Hu Cin Jin, Dewi Kuan Im, serta dewa‑dewa lokal yang menjadi simbol perlindungan masing‑masing komunitas. Keberagaman ini menegaskan bahwa tradisi keagamaan Tionghoa di Indonesia tidak monolitik, melainkan kaya akan variasi lokal.

Banyuwangi, yang dikenal dengan keragaman etnis dan budaya, kini menambah catatan sejarahnya dengan menjadi tuan rumah pertama kumpulan rupang lintas provinsi. Sebelumnya, kegiatan serupa lebih sering terjadi di wilayah Jawa Tengah, sehingga kehadiran di Banyuwangi menandakan penyebaran budaya yang lebih luas.

Acara berakhir dengan sembahyang bersama pada Jumat, 17 April 2026, diikuti oleh doa untuk kelancaran klenteng dan kesejahteraan umat. Para peserta meninggalkan klenteng dengan harapan dapat mengulang tradisi serupa di tahun‑tahun mendatang, memperkuat ikatan budaya dan spiritual.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.