Media Kampung – Kabupaten Buleleng kembali menghadirkan karya seni yang merefleksikan identitas daerah dalam ajang Lomba Barong Ket Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026. Bertempat di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali, Denpasar, pada Rabu, 24 Juni 2026, duta Buleleng yang diwakili Sanggar Seni Wahana Santhi, Desa Umajero, Kecamatan Busungbiu, membawakan garapan bertajuk “SINGAde Barong”.

Garapan ini tidak hanya menonjolkan kemampuan artistik para penari dan penabuh, tetapi juga mengangkat sudut pandang masyarakat Bali Utara terhadap keberadaan Barong Ket. Melalui konsep yang matang, karya ini menjadi ruang untuk menyampaikan refleksi budaya sekaligus memperlihatkan karakter kesenian Buleleng di panggung PKB.

Makna Ganda di Balik Judul SINGAde Barong

Konseptor garapan, I Ketut Pany Ryandhi, menjelaskan bahwa judul “SINGAde Barong” memiliki dua makna yang saling berkaitan. Pertama, dimaknai sebagai “Singa de Barong” yang merujuk pada sosok singa sebagai representasi visual Barong Ket. Kedua, “Sing Ade Barong” dalam bahasa Bali berarti “tidak ada barong”.

“Berangkat dari situ, kami ingin menghadirkan perspektif orang Buleleng terhadap Barong Ket. Melalui kesempatan ini kami mencoba membawa cara pandang masyarakat Bali Utara dalam memaknai barong, baik dari sisi estetika maupun spirit yang terkandung di dalamnya,” ujar Pany Ryandhi.

Menurutnya, makna “Sing Ade Barong” bukan berarti Bali Utara tidak memiliki tradisi Barong, melainkan menggambarkan bahwa perkembangan kesenian tersebut tidak seintens beberapa daerah lain di Bali. Atas dasar itu, tim kreatif berupaya menyajikan karya yang merepresentasikan identitas budaya Bali Utara melalui bahasa pertunjukan yang tetap berakar pada tradisi.

Perpaduan Barong Ket dengan Musik Kebyar Bali Utara

Konsep tersebut diwujudkan dengan memadukan tradisi Barong Ket bersama karakter musikal Bali Utara. Spirit musik kebyar yang selama ini menjadi salah satu identitas kesenian Buleleng dihadirkan melalui dinamika, energi, dan eksplorasi musikal tanpa menghilangkan esensi pertunjukan Barong Ket.

“Secara musikal, kami mengadopsi struktur yang telah ditetapkan dalam kriteria lomba,” tambahnya. Struktur pertunjukan disusun mulai dari gending papeson sebagai pembuka hingga bagian-bagian berikutnya sesuai hirarki musikal yang telah ditentukan, sehingga memberikan ruang bagi penari dan penabuh untuk menampilkan kemampuan artistiknya.

Kesetaraan Gender dalam Berkesenian

Selain mengangkat identitas budaya, garapan “SINGAde Barong” juga menyampaikan pesan tentang kesetaraan dalam berkesenian. Hal itu diwujudkan melalui keterlibatan penabuh perempuan dalam proses kreatif maupun saat tampil di panggung, sebagai bentuk penghargaan bahwa kualitas berkarya ditentukan oleh kemampuan, dedikasi, dan komitmen, bukan oleh gender.

Melalui garapan ini, Sanggar Seni Wahana Santhi tidak sekadar menampilkan karya untuk kepentingan kompetisi. Karya tersebut juga menjadi refleksi budaya yang menegaskan cara pandang masyarakat Buleleng dalam menjaga, memaknai, dan mengembangkan tradisi Barong Ket sebagai bagian dari warisan budaya Bali yang terus berkembang mengikuti dinamika zaman.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.