Media Kampung – Ipaz, seorang perantau asal Bangka Belitung, merasakan pengalaman perdana menunaikan salat Iduladha di Masjid Istiqlal Jakarta pada tahun ini. Suasana yang begitu ramai dengan lautan jemaah sejak pagi hari membuat perayaan Iduladha di ibu kota terasa jauh berbeda dibandingkan di kampung halamannya.
Sudah sekitar enam bulan Ipaz bekerja dan tinggal sementara di Jakarta Pusat bersama rekan-rekan perantauan lain. Ia memanfaatkan momentum Iduladha untuk beribadah bersama ribuan umat Muslim yang memadati Masjid Istiqlal. Sejak subuh, kawasan masjid sudah dipenuhi jemaah dari berbagai daerah yang membawa perlengkapan salat seperti sajadah masing-masing.
Ipaz tiba di masjid sekitar pukul 05.30 WIB dan masih beruntung mendapatkan tempat salat di lantai tiga. Ia mengamati perbedaan signifikan antara pelaksanaan salat Iduladha di Jakarta dan di daerah asalnya terutama dari segi jumlah jemaah yang jauh lebih banyak. Gemuruh takbir yang bersahutan dan barisan jemaah yang padat menambah kesan meriah di lokasi.
“Perbedaannya apa ya, dari segi kuantitasnya lebih banyak di sini mungkin gitu. Terus lebih ramai juga di sini,” ujar Ipaz dengan senyum saat berbincang dengan RRI.CO.ID. Suasana ramai dan semarak di halaman Masjid Istiqlal usai salat merupakan gambaran nyata bagaimana ibu kota menjadi pusat kegiatan keagamaan yang besar.
Meski jauh dari keluarga, Ipaz tetap memaknai Iduladha dengan nilai-nilai pengorbanan dan keteladanan Nabi Ismail yang mengorbankan diri demi menjalankan perintah Tuhan. Hal ini menurutnya menjadi pengingat bagi seluruh umat Muslim untuk selalu berikhlas dan berkurban dalam berbagai aspek kehidupan.
“Kalau memaknai dari hari raya Idul Adha sendiri itu menurut saya merupakan hari yang di mana umat Islam memperingati kesadaran akan kurban, berkurban. Terus sejarah tentang Nabi Ismail yang mengorbankan anaknya, ada pengorbanan,” tambahnya.
Tahun ini merupakan pengalaman pertama Ipaz merayakan Iduladha tanpa kembali ke Bangka Belitung. Ia memilih tetap berada di Jakarta karena keterbatasan waktu libur kerja yang berdekatan dengan akhir pekan. Meski begitu, ia tetap menjaga komunikasi dengan keluarga lewat telepon dan mengetahui bahwa keluarga dan masyarakat di kampung halamannya juga melaksanakan kurban serta merayakan Iduladha dengan hangat.
Suasana Iduladha di Masjid Istiqlal yang dipenuhi ribuan jemaah dari berbagai daerah menggambarkan betapa besar semangat umat Muslim di ibu kota dalam menjalankan ibadah dan tradisi keagamaan. Perayaan ini juga menjadi momen mempererat tali silaturahmi di tengah keragaman masyarakat Jakarta.
Pengalaman Ipaz ini menjadi cerminan bagaimana perantauan di ibukota dapat merasakan makna Iduladha yang sama meskipun jauh dari kampung halaman. Kesempatan beribadah di tempat ikonik seperti Masjid Istiqlal menambah pengalaman spiritual yang berbeda dan mengesankan bagi mereka yang jauh dari keluarga.
Ke depan, momentum Iduladha di Masjid Istiqlal terus menjadi daya tarik bagi umat Muslim dari berbagai daerah yang ingin merasakan suasana perayaan Iduladha dengan suasana yang lebih meriah dan penuh makna. Hal ini juga menunjukkan peran penting masjid nasional sebagai pusat kegiatan keagamaan terbesar di Indonesia.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan