Media Kampung – Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi, menegaskan bahwa pergantian jabatan atau reshuffle kabinet bukanlah akhir dari karier politik seseorang. Dalam pernyataannya, ia mencontohkan perjalanan politik Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim sebagai bukti bahwa kehilangan jabatan dapat menjadi awal dari babak baru dalam politik.
Hasan Nasbi menyampaikan bahwa dalam dunia politik, seseorang bisa ‘hidup lebih dari sekali’. Ia menjelaskan bahwa banyak orang menganggap pemberhentian dari jabatan sebagai akhir karier, tetapi kenyataannya tidak demikian. Prabowo Subianto, misalnya, pernah diberhentikan dari TNI di usia muda saat menjadi letnan jenderal yang menjanjikan. Namun, setelah itu, Prabowo membangun karier politik yang panjang dan akhirnya terpilih sebagai Presiden Indonesia pada 2024. Perjalanan politik Prabowo mencakup beberapa kali mengikuti pemilu dengan hasil kalah sebelum akhirnya mendapatkan kepercayaan masyarakat.
Selain Prabowo, Hasan juga mengangkat contoh Anwar Ibrahim, Perdana Menteri Malaysia, yang pernah kehilangan posisi Wakil Perdana Menteri dan mengalami proses hukum serta penahanan sebelum kembali ke panggung politik dan menduduki jabatan tertinggi di negaranya.
Peristiwa terbaru yang menjadi sorotan publik adalah pencopotan Purbaya Yudhi Sadewa dari posisi Menteri Keuangan pada September 2026 oleh Presiden Prabowo Subianto. Meskipun penggantian tersebut terjadi secara tiba-tiba dan menuai kritik, Hasan Nasbi meminta masyarakat untuk melihat pergantian jabatan tersebut dalam konteks perjalanan politik yang lebih luas.
Hasan menekankan bahwa pergantian jabatan adalah hal yang lumrah dan jamak terjadi dalam sebuah organisasi maupun pemerintahan. Ia mencontohkan bagaimana Prabowo yang sebelumnya mengalami pemecatan di militer tidak berhenti dalam kariernya, melainkan terus berjuang hingga mencapai puncak kepemimpinan negara.
Pernyataan Hasan Nasbi memberikan perspektif baru bagi publik bahwa kehilangan jabatan bukanlah akhir dari segalanya dalam dunia politik. Kesempatan untuk kembali dan berkembang masih terbuka bagi mereka yang memiliki semangat dan keyakinan dalam perjuangan politiknya.
Dengan demikian, reshuffle kabinet yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto harus dipahami sebagai bagian dari dinamika politik yang normal dan bukan tanda kehancuran karier politik seseorang.













Tinggalkan Balasan