Media Kampung, Nusa Tenggara Timur – Sebanyak 94 warga meninggal dunia di pengungsian pascagempa yang melanda Nusa Tenggara Timur (NTT). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjelaskan bahwa kematian mayoritas korban bukan disebabkan oleh trauma fisik langsung dari gempa atau reruntuhan bangunan, melainkan karena kondisi kesehatan kronis yang dialami oleh kelompok rentan, terutama lansia.
Verifikasi Penyebab Kematian
Berdasarkan hasil verifikasi dan validasi terpadu antara BNPB dan Kementerian Kesehatan, korban yang meninggal di pengungsian sebagian besar merupakan lansia dengan penyakit kronis seperti stroke dan diabetes melitus. Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menegaskan hasil ini sebagai klarifikasi terhadap informasi yang beredar di masyarakat.
Penanganan Medis dan Dukungan Pemerintah
Pemerintah telah memberikan penanganan medis secara maksimal sejak gempa terjadi pada 15 Agustus 2026. Berbagai fasilitas kesehatan dan pos kesehatan terpadu diaktifkan, termasuk pos dukungan logistik di Labuan Bajo dan Maumere. Bantuan medis, obat-obatan, dan peralatan terus disalurkan kepada pengungsi di lokasi pengungsian terpusat maupun mandiri.
Jumlah Pengungsi dan Kondisi Terkini
Data BNPB per 15 September 2026 menunjukkan jumlah pengungsi akibat gempa NTT telah menurun signifikan menjadi 46.461 jiwa dari sebelumnya lebih 150.000 jiwa. Pemerintah memastikan pelayanan kesehatan dan kebutuhan dasar tetap tersedia untuk para penyintas meskipun jumlah pengungsi menurun.
Imbauan Pemerintah kepada Masyarakat
BNPB mengimbau masyarakat untuk memperoleh informasi dari sumber resmi dan terverifikasi guna menghindari kekhawatiran dan spekulasi yang tidak berdasar. Berton juga menyampaikan permohonan maaf atas dinamika informasi yang mungkin menimbulkan kecemasan di tengah masyarakat.
Dengan penjelasan ini, diharapkan dukungan dan doa masyarakat dapat mempercepat pemulihan kondisi di Nusa Tenggara Timur pascagempa.














Tinggalkan Balasan