Media Kampung – Naftali Bennett, mantan perdana menteri Israel, kembali menjadi sorotan politik nasional menjelang pemilihan umum Oktober 2026. Ia menargetkan Benjamin Netanyahu yang saat ini memimpin pemerintahan Likud.

Bennett dikenal sebagai figur yang menggabungkan karir militer dengan prestasi di dunia teknologi. Sebelum terjun ke politik pada 2013, ia pernah menjadi anggota Sayeret Maglan, unit khusus IDF yang mengembangkan senjata canggih.

Pengalaman militernya dipadukan dengan keberhasilan bisnisnya di bidang keamanan siber. Pada tahun 1999 ia mendirikan Cyota, startup anti‑penipuan yang kemudian dijual kepada RSA Security seharga US$145 juta.

Kesuksesan Cyota memberi Bennett status jutawan teknologi dan jaringan internasional. Pada 2009 ia bergabung dengan Soluto, perusahaan yang menyediakan layanan dukungan jarak jauh berbasis cloud.

Karier politiknya dimulai dengan menjadi ketua partai Yamina pada 2018, kemudian memimpin koalisi pemerintahan yang menggulingkan Netanyahu pada 2021. Selama masa jabatan singkatnya, ia menandatangani rencana pembangunan perumahan di wilayah Tepi Barat.

Setelah masa jabatan berakhir, Bennett tetap aktif dalam kancah politik sebagai oposisi utama. Ia menuduh pemerintah Netanyahu gagal mengatasi krisis ekonomi dan keamanan yang dipicu konflik berulang di Gaza.

Pada akhir April 2026, Bennett mengumumkan rencana aliansi dengan mantan perdana menteri Yair Lapid. Kedua tokoh tersebut bersepakat menurunkan posisi masing‑masing pada daftar calon untuk menarik pemilih moderat.

Aliansi ini dinamakan “Bersatu – Dipimpin Bennett” dan menggabungkan partai “Bennett 2026” dengan Yesh Atid milik Lapid. Tujuannya adalah menciptakan blok oposisi yang dapat menantang dominasi Likud.

Dalam konferensi pers, Bennett menyatakan, “Ini adalah langkah paling Zionis dan patriotik yang pernah kami lakukan”. Pernyataan tersebut menegaskan tekadnya untuk mempertahankan kebijakan keamanan Israel.

Para pengamat menilai aliansi tersebut berpotensi mengubah dinamika pemilu, namun skeptis terhadap perubahan kebijakan Palestina. Mereka mencatat bahwa kedua tokoh tetap mendukung kebijakan pemukiman dan operasi militer.

Sejumlah pakar politik, termasuk Ozgur Dikmen dari Stanford, berpendapat bahwa aliansi ini mungkin menghasilkan gaya kepemimpinan yang lebih profesional, tetapi tidak mengubah doktrin keamanan yang mendasar.

Sementara itu, data survei internal VIVA menunjukkan penurunan dukungan publik terhadap Netanyahu sebesar 12 poin sejak awal 2026. Penurunan tersebut dipicu oleh biaya hidup yang meningkat dan kelelahan perang.

Bennett menekankan bahwa solusi ekonomi dan keamanan harus dijalankan secara bersamaan. Ia berjanji meningkatkan investasi teknologi tinggi untuk memperkuat industri pertahanan dalam negeri.

Dalam konteks internasional, aliansi baru ini dipantau oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa yang mengharapkan stabilitas politik di Timur Tengah. Kedua blok tersebut menyatakan kesiapan membantu proses perdamaian jika ada perubahan kepemimpinan.

Namun, pihak-pihak pro‑Palestina mengkritik aliansi tersebut sebagai taktik politik belaka tanpa komitmen nyata pada hak-hak rakyat Palestina. Mereka menilai bahwa retorika Zionis tetap menjadi landasan kebijakan.

Selama kampanye, Bennett menyoroti keberhasilan startup‑startup Israel yang mencetak nilai ekspor teknologi mencapai US$30 miliar pada 2025. Ia berjanji memperluas ekosistem inovasi melalui insentif pajak.

Di sisi lain, Lapid menekankan pentingnya reformasi sistem peradilan dan transparansi pemerintahan. Kedua tokoh berjanji menurunkan praktik korupsi yang dianggap menggerogoti kepercayaan publik.

Pergerakan politik ini berlangsung di tengah ketegangan keamanan yang masih tinggi, terutama setelah serangan Hamas pada Oktober 2023. Netanyahu masih mengandalkan kebijakan militer keras untuk menanggapi ancaman tersebut.

Para analis militer menilai bahwa meski aliansi Bennett‑Lapid dapat menurunkan intensitas retorika, mereka tidak akan mengubah strategi pertahanan Israel secara signifikan. Keputusan strategis tetap berada di tangan militer profesional.

Menjelang penutupan kampanye pada akhir September 2026, Bennett dan Lapid terus melakukan tur kampanye di kota‑kota besar seperti Tel Aviv, Haifa, dan Jerusalem. Mereka menargetkan pemilih muda dan profesional teknologi.

Kondisi terbaru menunjukkan aliansi tersebut berhasil menembus 25% suara dalam survei pra‑pemilu terakhir. Hasil ini menempatkan mereka sebagai opsi utama kedua setelah koalisi pro‑Netanyahu.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.