Media Kampung – 17 April 2026 | Presiden ke-5 Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, menerima Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Ralf Beste, di kediamannya, Menteng, Jakarta, pada Jumat, 17 April 2026. Pertemuan itu menyoroti situasi geopolitik Timur Tengah serta warisan Konferensi Asia Afrika yang ke-71.

Megawati didampingi Sekretaris Jenderal DPP PDIP, Hasto Kristiyanto, Ketua DPP Bidang Luar Negeri, Ahmad Basarah, dan Direktur Eksekutif Megawati Institute, Hilmar Farid. Mereka bersama menyampaikan pandangan strategis kepada Dubes Jerman.

Dalam dialog, Ralf Beste menyoroti ketegangan di Selat Hormuz dan potensi dampaknya terhadap ekonomi global. “Krisis di wilayah tersebut dapat memicu tekanan pada harga energi dan memperburuk ketidakstabilan pasar,” ujarnya.

Megawati menanggapi dengan mengaitkan pengalaman pribadi memimpin negara selama krisis moneter 1997-1998. Ia menjelaskan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar rupiah, pelunasan utang luar negeri, dan restrukturisasi BPPN.

“Pengalaman itu menjadi pelajaran penting bagi Indonesia dalam menghadapi ancaman krisis baru,” kata Megawati, menekankan pentingnya kebijakan antisipatif.

Hasto Kristiyanto menambahkan bahwa pembahasan juga meliputi relevansi semangat Konferensi Asia Afrika (KAA) bagi tantangan masa kini. Ia menyatakan, “Pemikiran Bung Karno tentang kerjasama seluas benua tetap relevan dalam mengatasi konflik regional.”

Dubes Beste mengungkapkan kekagumannya terhadap Museum KAA di Bandung, yang baru saja dikunjunginya. “Saya menyaksikan secara langsung jejak kepeloporan Bung Karno dalam KAA, dan semangat itu masih hidup,” katanya.

Megawati mengingat kembali perannya sebagai delegasi termuda pada KTT Gerakan Non-Blok di Beograd, 1961. Pada usia 14 tahun, ia bertemu tokoh dunia seperti Jawaharlal Nehru dan Gamal Abdel Nasser.

Ia menuturkan, “Mereka saya panggil ‘uncle’, pengalaman itu mengajarkan pentingnya diplomasi multilateral bagi bangsa Indonesia.”

Ahmad Basarah menyoroti bahwa PDI Perjuangan harus menyiapkan kadernya untuk memahami ideologi Bung Karno secara kritis dan dialektis. “Kader yang paham cara berpikir Bung Karno akan lebih siap menghadapi dinamika politik dan sosial,” ujarnya.

Megawati menekankan bahwa kader PDIP harus turun langsung ke masyarakat, menghindari korupsi, dan berinovasi dalam program ketahanan pangan. Ia menekankan pentingnya program padat karya untuk menjaga daya beli rakyat.

Dalam arahan kepada kepala daerah PDIP, Megawati meminta langkah penghematan anggaran yang tetap menjamin kecukupan pangan. “Prioritas utama tetap kebutuhan pokok, terutama beras dan bahan pangan penting,” tegasnya.

Ia juga menekankan perlunya laporan rutin dari kader mengenai kenaikan harga kebutuhan pokok, sebagai sinyal bahwa partai harus proaktif membantu warga.

Megawati menambahkan bahwa partai harus berperan sebagai penyeimbang di luar kabinet, menjaga disiplin, integritas, dan kepatuhan pada hukum. “Kami tidak terlibat dalam pengelolaan keuangan partai, itu tanggung jawab bendahara,” jelasnya.

Hasto mengingatkan pentingnya transparansi keuangan partai, melarang pencampuran dana pribadi dengan dana organisasi. “Uang bendahara harus dikelola secara akuntabel, tidak boleh dikekep,” ia menegaskan.

Megawati mencontohkan dirinya yang tidak pernah terlibat langsung dalam urusan keuangan PDIP, menekankan pembagian tugas yang jelas dalam struktur partai.

Ia juga menginstruksikan agar pengurus daerah mengadakan rapat rutin minimal satu kali seminggu, khususnya setiap Selasa, dengan sistem absensi yang disiplin. “Rapat rutin membantu mengidentifikasi masalah dan solusi secara cepat,” katanya.

Kantor sekretariat partai diminta tetap melayani masyarakat, termasuk proses pendaftaran anggota baru dan pembuatan KTA. “Pelayanan publik menjadi cermin kehadiran partai di tengah rakyat,” ujar Megawati.

Pertemuan ditutup dengan pertukaran cendera mata, di mana Megawati memberikan buku teks pidato Bung Karno di KAA, pidato PBB berjudul “To Build The World A New”, serta buku “Lahirnya Pancasila” kepada Dubes Jerman.

Ralf Beste mengapresiasi hadiah tersebut sebagai simbol persahabatan bilateral dan warisan diplomasi Indonesia. “Ini memperkuat ikatan historis antara Indonesia dan Jerman,” katanya.

Setelah pertemuan, Megawati menyampaikan harapan agar Indonesia dapat terus menjadi mediator dalam penyelesaian konflik global, khususnya yang melibatkan Iran dan wilayah Timur Tengah.

Ia menutup pertemuan dengan pesan kepada kader PDIP untuk terus memperkuat ideologi, meningkatkan kepedulian sosial, dan menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah dinamika geopolitik yang berubah cepat.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.