Media Kampung – 15 April 2026 | Presiden Donald Trump kembali memicu polemik internasional setelah menyerang Paus Leo XIV di media sosial, memicu reaksi keras dari gereja Katolik dan tokoh politik dunia.

Serangan itu muncul pada 12 April 2026 ketika Trump memposting gambar AI dirinya dalam jubah keagamaan di platform Truth Social, menuduh Paus lemah dalam menangani kejahatan dan kebijakan luar negeri.

Gambar tersebut kemudian dihapus oleh akun Trump, yang mengklaim gambar itu dimaksudkan menampilkan dirinya sebagai dokter, namun banyak pihak menilai tindakan itu melanggar batas kesopanan agama.

Uskup New York Ronald Hicks menegaskan pada 13 April 2026 di program SiriusXM ‘The Catholic Channel’ bahwa Paus tidak akan menyerah pada provokasi dan tetap berpegang pada damai.

“Dia tidak mengambil umpan. Ia tetap tenang, berakar pada iman, dan terus menyampaikan pesan perdamaian,” ujar Hicks dalam wawancara, menambahkan bahwa dialog harus tetap hormat.

Paus Leo XIV, yang tengah melakukan kunjungan damai ke Aljazair, menanggapi secara diplomatis dengan menekankan pentingnya solidaritas terhadap migran dan penolakan perang Iran.

Kritik Trump berakar pada kebijakan Paus yang mendukung migran dan menolak eskalasi militer Iran, dua isu yang dianggap mengancam kepentingan keamanan nasional Amerika Serikat.

Republik Senator Elise Stefanik, pendukung kuat Trump dari New York, menyatakan bahwa Paus tidak seharusnya mencampuri politik domestik Amerika, meski tidak mengutuk secara eksplisit serangan pribadi.

Sementara itu, Uskup Manuel de Jesús Rodríguez dari Palm Beach, Florida, menilai komentar Trump “kasar dan menyerang secara kekerasan,” serta menyerukan permintaan maaf publik.

Premier Italia Giorgia Meloni, sekutu politik Trump di Eropa, mengecam pernyataan Presiden sebagai “tidak dapat diterima,” menambah ketegangan diplomatik antara Washington dan Roma.

Trump menanggapi kritikan Meloni pada 14 April 2026 dengan menyatakan bahwa ia terkejut atas sikapnya dan menuduhnya kurang keberanian dalam mempertahankan kepentingan Amerika.

Kontroversi ini juga memicu perdebatan di antara para sejarawan yang menuntut Arsip Nasional untuk melindungi catatan presiden terkait, mengingat potensi penyalahgunaan data digital.

Sebagian pengamat menilai serangan Trump terhadap Paus sebagai strategi politikal untuk mengalihkan perhatian publik dari isu-isu domestik yang menimpa administrasinya.

Namun, analis kebijakan luar negeri mencatat bahwa tindakan tersebut dapat merusak hubungan Amerika dengan negara-negara mayoritas Katolik, terutama di Eropa dan Amerika Latin.

Reaksi publik di wilayah Michiana menunjukkan pembagian tajam, dengan kelompok Katolik menuntut klarifikasi resmi dari Gedung Putih, sementara pendukung Trump memperkuat solidaritas mereka.

Kantor kepresidenan belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai permintaan maaf, namun sumber dalam tim komunikasi menyatakan bahwa Trump sedang meninjau opsi respons.

Sementara itu, Paus Leo XIV tetap melanjutkan agenda kunjungannya, menekankan pesan persatuan dan perdamaian di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat.

Kejadian ini menyoroti tantangan baru dalam era digital, di mana AI dapat menciptakan representasi visual yang menimbulkan kontroversi politik dan agama.

Para pakar etika digital mengingatkan pentingnya regulasi konten AI untuk mencegah penyalahgunaan yang dapat memperburuk polarisasi sosial.

Dengan tidak ada permintaan maaf resmi hingga hari ini, situasi tetap berkembang dan menjadi sorotan media internasional serta lembaga keagamaan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.