Media Kampung, Nusa Tenggara Timur – Ribuan warga terdampak gempa berkekuatan 7,7 magnitudo di Nusa Tenggara Timur (NTT) terpaksa mengungsi dan bermalam di tenda pengungsian yang disiapkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Sosial (Kemensos). Posko pengungsian utama berada di kawasan Stadion Gelora Samador Maumere, Kabupaten Sikka.
Gempa kuat yang mengguncang wilayah NTT pada Sabtu (15/8/2026) menyebabkan kerusakan parah pada sejumlah rumah penduduk, sehingga banyak warga memilih mengungsi demi keselamatan. Tenda-tenda pengungsian yang didirikan kini telah dipenuhi oleh warga yang kehilangan tempat tinggal sementara akibat bencana ini.
Data Korban dan Evakuasi
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal dunia bertambah menjadi 47 orang. Korban tersebar di beberapa kabupaten, yakni Manggarai (24 orang), Manggarai Timur (17 orang), Sikka (3 orang), Ngada (1 orang), dan Ende (1 orang). Selain itu, petugas masih terus melakukan evakuasi dan memberikan perawatan medis kepada korban luka-luka yang membutuhkan bantuan.
Upaya Penanganan dan Bantuan
BNPB bersama Kemensos telah menyiapkan tenda pengungsian dan logistik untuk mendukung kebutuhan dasar para pengungsi. Posko pengungsian di Stadion Gelora Samador Maumere menjadi salah satu pusat koordinasi utama bagi tim tanggap darurat dalam memberikan bantuan dan pelayanan kesehatan.
Saat ini, fokus utama penanganan adalah memastikan keselamatan warga yang terdampak serta pemulihan kondisi pasca gempa. Petugas gabungan dari berbagai instansi terus bekerja untuk mengantisipasi potensi gempa susulan dan mengoptimalkan distribusi bantuan.
Situasi di Lapangan
Warga yang bermalam di tenda pengungsian menghadapi tantangan kondisi cuaca dan keterbatasan fasilitas. Namun, semangat gotong royong dan dukungan dari berbagai pihak membantu meringankan beban para korban. Informasi terbaru dan koordinasi terus dilakukan untuk memastikan kebutuhan mendesak terpenuhi.
Gempa di NTT ini menimbulkan dampak besar bagi masyarakat setempat, sehingga penanganan darurat dan rehabilitasi menjadi prioritas utama dalam beberapa waktu ke depan.














Tinggalkan Balasan