Media Kampung – Fenomena kemunculan api misterius di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, terus menjadi sorotan. Sejak Jumat (23/5) pekan lalu, api muncul lebih dari 90 kali di rumah milik Muftiana di Padukuhan Kasuran, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Sleman.

Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Bambang Kuntoro, menegaskan bahwa Pemkab tidak ingin gegabah menetapkan status tanggap darurat sebelum ada kepastian ilmiah. “Kami harus bertindak berdasarkan data yang pasti. Apakah nantinya perlu pengungsian, pengosongan lokasi, atau langkah lainnya, semua bergantung pada rekomendasi hasil penelitian para pakar,” ujarnya.

Tim ahli lintas instansi telah diterjunkan untuk meneliti fenomena ini. Mereka melibatkan pakar dari Universitas Gadjah Mada (UGM), UPN Veteran Yogyakarta, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG). Analisis difokuskan pada kemungkinan pemicu kebakaran, baik dari unsur gas, geologi, maupun faktor lingkungan lainnya.

Bambang mengungkapkan, hasil kajian akan menjadi rujukan pemerintah daerah dalam menetapkan status tanggap darurat khusus. “Kami berencana segera melaporkan perkembangan situasi ini kepada Bupati Sleman demi memastikan penanganan yang tepat sasaran,” katanya kepada Media Kampung, Kamis (4/6).

BPBD Sleman bersama instansi terkait telah menyiagakan unit pemadam kebakaran di lokasi. Selain itu, pendampingan psikologis diberikan kepada keluarga Muftiana yang mengalami trauma. Bantuan pangan serta kebutuhan dasar seperti matras, selimut, dan tempat tidur juga telah disalurkan.

Fenomena api misterius ini menjadi perhatian serius karena berpotensi menimbulkan bencana lebih besar jika tidak segera ditemukan penyebabnya. Apalagi, fenomena itu telah memicu keresahan warga di sekitar lokasi. “Kami berharap hasil penelitian segera keluar agar ada kepastian. Harapan kami hanya satu, bisa kembali tinggal dengan tenang tanpa rasa takut,” kata Muftiana, pemilik rumah.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.