Media Kampung – SMA Dharma Wanita 1 Pare Boarding School mencatat sejarah sebagai sekolah dengan persentase kelulusan Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) tertinggi di Kabupaten Kediri. Angkatan pertama sekolah ini berhasil meraih angka kelulusan sebesar 73,21 persen, sebuah capaian yang membuktikan keberhasilan program pendidikan transformatif bagi siswa dari keluarga kurang mampu.
Kesuksesan ini merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Kediri dan Putera Sampoerna Foundation (PSF) melalui Lighthouse School Program (LSP) berasrama. Program yang dimulai pada Mei 2023 ini dirancang untuk memberikan akses pendidikan berkualitas bagi siswa dari desil 1, yaitu kelompok ekonomi terendah. Setelah tiga tahun berjalan, hasilnya melampaui ekspektasi.
Dari total 126 siswa angkatan pertama, sebanyak 101 siswa atau sekitar 80 persen telah diterima di berbagai perguruan tinggi negeri (PTN). Mereka berhasil menembus kampus-kampus ternama seperti Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Jember, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Universitas Sebelas Maret (UNS). Sementara itu, 25 siswa lainnya masih menunggu hasil seleksi dari perguruan tinggi dan sekolah kedinasan.
Kepala SMA Dharma Wanita 1 Pare Boarding School, Ahmad Riziq Mubarok, mengungkapkan bahwa capaian ini tidak terlepas dari proses transformasi yang konsisten selama tiga tahun. “PSF membantu mengubah cara sekolah bekerja. Kami menjadi lebih terarah dalam memantau kemajuan siswa, lebih konsisten dalam proses pembelajaran, dan lebih fokus pada perkembangan siswa secara bertahap. Hasilnya, bukan hanya kemampuan akademik siswa yang tumbuh, tapi juga kepercayaan diri dan keberanian untuk meraih cita-cita yang sebelumnya terasa di luar jangkauan,” ujarnya saat wisuda angkatan pertama di Convention Hall SLG Kabupaten Kediri, Minggu, 14 Juni 2026.
Head of Program GuruBinar Putera Sampoerna Foundation, Juliana, menekankan bahwa pendidikan adalah instrumen untuk mendorong mobilitas sosial dan memutus rantai kemiskinan struktural. “Pendidikan tidak hanya mengubah satu siswa, tapi juga keluarga dan generasi berikutnya,” katanya. Ia berharap program ini dapat menjadi model praktik baik yang direplikasi di berbagai daerah, sehingga semakin banyak sekolah yang mampu mencetak lulusan unggul dan berdaya saing.
Dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Kediri menjadi faktor kunci keberhasilan ini. Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Kediri, Mohamad Solikin, menjelaskan bahwa angka kemiskinan di daerahnya cukup tinggi dengan sekitar 10 ribu anak putus sekolah. “Program yang kami terapkan di SMA Dharma Wanita 1 Pare Boarding School merupakan salah satu bukti nyata upaya Pemerintah Kabupaten Kediri dalam memutus rantai kemiskinan. Ke depannya, bukan tidak mungkin program ini direplikasi lebih luas ke jenjang pendidikan dasar dan menengah pertama,” tegasnya.
Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana menyampaikan rasa syukurnya atas capaian angkatan pertama yang dinobatkan sebagai yang terbaik se-Kabupaten Kediri, bahkan melampaui sejumlah daerah lain. “Mereka berasal dari kelompok desil 1. Awalnya banyak yang tidak punya keinginan melanjutkan pendidikan tinggi, tapi setelah ditempa selama tiga tahun, terbukti mereka mampu bersaing. Ini membuktikan semua anak punya kesempatan yang sama jika diberi akses dan dukungan yang tepat,” ujarnya.
Program pendidikan gratis ini didukung anggaran sekitar Rp6 miliar per tahun. Bupati menegaskan bahwa sekolah ini harus tetap eksklusif untuk anak-anak dari kelompok kurang mampu dan tidak boleh menjadi sekolah komersial. “Tantangannya justru semakin besar ke depan tingkat kelulusan tidak boleh turun, dan sekolah ini harus tetap eksklusif untuk anak-anak dari kelompok kurang mampu, tidak boleh menjadi sekolah komersial atau menerima siswa di luar sasaran,” tandasnya.
Keberhasilan angkatan pertama ini menjadi bukti bahwa intervensi sistemik yang menyentuh setiap lapisan ekosistem sekolah mampu mengubah ketertinggalan menjadi keunggulan. Para lulusan kini siap melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan menjadi agen perubahan bagi komunitasnya.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan