Revitalisasi Sekolah Terdampak Bencana, Kemendikdasmen Gelontorkan Rp2 Triliun untuk Pemulihan Pendidikan

Media Kampung – Jakarta – Dalam upaya mempercepat pemulihan layanan pendidikan pascabencana, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menggelontorkan dana sebesar Rp2 triliun untuk revitalisasi sekolah terdampak bencana di tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. Program ini menjadi fokus utama menjelang tahun ajaran baru, guna memastikan proses pembelajaran dapat berjalan kembali dengan aman dan layak.

Skala Dampak dan Target Revitalisasi

Sebanyak 4.922 satuan pendidikan di wilayah terdampak mengalami kerusakan akibat bencana alam, yang berdampak langsung pada pembelajaran 707.161 peserta didik serta 59.620 tenaga pendidik dan kependidikan. Data per 25 Mei 2026 menunjukkan bahwa 3.101 sekolah telah menandatangani perjanjian kerja sama revitalisasi, dengan total nilai bantuan mencapai Rp2,9 triliun. Dari jumlah tersebut, sebanyak 3.033 sekolah sudah menerima penyaluran dana tahap pertama, mencapai Rp2 triliun.

Mayoritas revitalisasi dilakukan secara swakelola oleh pihak sekolah, memungkinkan percepatan pengerjaan yang sesuai kebutuhan lokal. Namun, untuk 267 sekolah yang mengalami kerusakan berat, pengerjaan dilakukan bersama TNI Angkatan Darat (TNI AD) untuk menjamin kualitas dan keamanan bangunan. Progres pembangunan terus berjalan di berbagai daerah terdampak, dengan target penyelesaian 311 sekolah sebelum Juli 2026, menjelang tahun ajaran baru.

Relokasi Sekolah dan Bantuan Kepada Tenaga Pendidik

Direktur Jenderal PAUD Dikdas PNFI, Gogot Suharwoto, menyampaikan bahwa proses relokasi sekolah masih berlangsung, terutama dalam penyediaan dan legalitas lahan yang menjadi kendala di beberapa daerah. Terdapat 66 sekolah yang harus direlokasi namun belum melakukan Perjanjian Kerja Sama (PKS) karena masih menunggu kelengkapan tersebut.

Selain revitalisasi fisik, Kemendikdasmen juga memberikan bantuan kepada guru dan tenaga kependidikan terdampak. Sebanyak 52.513 guru dan tenaga kependidikan telah menerima bantuan dana lebih dari Rp315 miliar, sebagai bentuk dukungan pemulihan kesejahteraan dan motivasi mereka dalam melanjutkan tugas pendidikan.

Percepatan Revitalisasi di Sekolah Prioritas

Di Aceh Tamiang, revitalisasi Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Pembina terus dipercepat dengan target selesai pada Juni 2026 agar dapat digunakan kembali pada tahun ajaran baru. Selama proses pembangunan, aktivitas belajar tetap berlangsung memanfaatkan ruang kelas darurat agar peserta didik tidak kehilangan waktu belajar.

Begitu pula di SMK Ummul Ayman, Pidie Jaya, pembangunan ruang kelas baru dan fasilitas pendukung terus menunjukkan kemajuan signifikan. Pembangunan ini menjadi bagian dari komitmen Kemendikdasmen untuk menghadirkan lingkungan belajar yang aman dan layak bagi seluruh siswa terdampak bencana.

Komitmen Kemendikdasmen dalam Pemulihan Pendidikan

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin, menegaskan bahwa revitalisasi sekolah terdampak bencana merupakan bagian integral dari upaya pemulihan pembelajaran pascabencana. Kemendikdasmen berkomitmen memastikan murid tetap belajar dalam lingkungan yang aman dan kondusif, sehingga proses pendidikan tidak terganggu secara signifikan meskipun bencana telah menimbulkan kerusakan besar.

“Revitalisasi ini bagian dari pemulihan pembelajaran pascabencana. Kami memastikan murid tetap belajar dalam lingkungan yang aman dan layak,” ujar Tatang. Langkah strategis ini diharapkan dapat mengembalikan semangat belajar siswa dan memperkuat sistem pendidikan di daerah-daerah rawan bencana.

Kesimpulan

Revitalisasi sekolah terdampak bencana yang dilakukan Kemendikdasmen dengan penggelontoran dana sebesar Rp2 triliun menunjukkan komitmen kuat pemerintah dalam mempercepat pemulihan layanan pendidikan di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. Melalui revitalisasi fisik sekolah, bantuan kepada tenaga pendidik, serta percepatan relokasi dan pembangunan fasilitas pendidikan, program ini diharapkan mampu memastikan hak belajar anak-anak terdampak bencana tetap terpenuhi dalam lingkungan yang aman dan layak. Dengan target penyelesaian sebelum tahun ajaran baru, upaya ini menjadi langkah strategis untuk mengembalikan kualitas pendidikan pascabencana dan menjaga kesinambungan proses belajar mengajar di wilayah terdampak.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.