Media Kampung – Universitas Diponegoro (UNDIP) menggelar pelatihan produksi video bagi tim media sosial resmi untuk memperkuat reputasi kampus melalui konten yang inspiratif dan bernilai. Kegiatan ini berlangsung pada Selasa, 12 Mei 2026, dan melibatkan koordinator komunikasi publik dari berbagai fakultas, sekolah, dan unit kerja di lingkungan UNDIP.

Pelatihan tersebut diselenggarakan oleh Direktorat Sumber Daya Manusia (DSDM) bekerja sama dengan Direktorat Jejaring Media, Komunitas dan Komunikasi Publik (Jejak). Tujuan utama pelatihan ini adalah meningkatkan kapasitas pengelola komunikasi publik agar dapat menghasilkan konten video yang bukan sekadar dokumentasi, melainkan mampu menyampaikan nilai, capaian, inovasi, dan dampak positif yang dihasilkan oleh UNDIP kepada masyarakat luas.

Dalam sambutannya, Wakil Rektor III Bidang Sumber Daya Manusia, Teknologi Informasi, Hukum, dan Organisasi UNDIP, Prof. Dr. Adian Fatchur Rochim, menyatakan pentingnya membuat konten kelembagaan yang menonjolkan substansi dan manfaat bagi publik. Ia menekankan bahwa masyarakat membutuhkan informasi yang menggambarkan hasil riset, publikasi, dan kontribusi nyata universitas, bukan sekadar dokumentasi seremonial.

Prof. Adian menambahkan, “Setiap konten, baik berita, video, maupun unggahan media sosial, harus mampu menjawab manfaat, hasil, dan dampak bagi audiens.” Ia juga menyampaikan bahwa pengelolaan konten digital yang tepat bisa menjadi rujukan yang memperkuat reputasi institusi serta memicu munculnya gagasan baru. Oleh karena itu, pengelola komunikasi publik didorong untuk mengemas aktivitas akademik menjadi narasi bermakna dan relevan bagi masyarakat.

Sementara itu, Wakil Rektor IV Riset, Inovasi, Kerja Sama, dan Komunikasi Publik UNDIP, Wijayanto, menekankan bahwa civitas akademika harus siap menghadapi dinamika komunikasi digital yang semakin cepat dan interaktif. Ia menjelaskan bahwa komunikasi publik kini memiliki peran strategis dengan potensi konten yang dapat menjangkau audiens luas dan bahkan menjadi viral jika disampaikan dengan tepat.

Wijayanto menambahkan bahwa kekuatan sebuah institusi tidak hanya diukur dari capaian akademik dan inovasi, tetapi juga dari kemampuan mengomunikasikan pencapaian tersebut secara efektif. “Indikator reputasi perguruan tinggi saat ini dipengaruhi oleh eksposur media, persepsi publik, dan kualitas narasi di platform digital,” ujarnya. Pelatihan ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dalam menghasilkan konten yang menarik, kredibel, dan berdampak.

Materi pelatihan disampaikan oleh Muhammad Nur Rohman, seorang praktisi jurnalistik dan produksi video. Ia membahas pentingnya perencanaan konten dan teknik penyuntingan agar video menjadi lebih informatif dan menarik. Nur Rohman menjelaskan bahwa video yang efektif harus memiliki tujuan komunikasi yang jelas, memahami audiens, pesan yang disampaikan, serta sudut pandang yang relevan agar konten dapat hidup di media digital.

Praktisi ini menyoroti pentingnya storytelling, penguatan elemen human interest, dan pemanfaatan sudut pandang behind the scenes untuk menciptakan pesan yang hidup dan dekat dengan audiens tanpa menghilangkan karakter resmi institusi. Dalam teknik penyuntingan, ia menegaskan bahwa proses editing harus menyusun informasi agar mudah dipahami, menarik, dan akurat. Pemilihan gambar, ritme, teks, audio, durasi, dan alur cerita menjadi faktor penting agar konten institusi tidak hanya menarik secara visual tetapi juga informatif.

Selain itu, Sidiq Ariyadi dari Direktorat Jejaring Media, Komunitas dan Komunikasi Publik UNDIP memaparkan standar video untuk media sosial resmi UNDIP. Materi ini mencakup aspek safe zone dalam komposisi video, konsistensi identitas visual, penggunaan logo, warna, tipografi, serta variasi pengambilan gambar untuk mendukung efisiensi produksi dan pengelolaan aset digital.

Sidiq menjelaskan bahwa konsistensi visual penting agar konten video institusi mudah dikenali publik dan memperkuat citra UNDIP di berbagai kanal media sosial. Ia juga menekankan penggunaan variasi shot yang tepat seperti wide shot, medium shot, close up, dan medium long shot agar video mampu menyampaikan informasi utama secara visual.

Pelatihan ini juga mengajarkan konsep “one person, multi output” yang relevan bagi pengelola komunikasi publik di unit kerja. Dalam praktiknya, satu orang harus mampu mengambil gambar, membuat narasi, mengedit video, dan menyiapkan distribusi konten secara mandiri. Oleh karena itu, kemampuan membaca nilai kegiatan, menentukan format konten, memahami perilaku audiens, serta memilih kanal publikasi menjadi keterampilan penting.

Peserta pelatihan mendapatkan kesempatan praktik langsung dengan pengambilan gambar berdasarkan shot list dan mengedit video menggunakan perangkat sederhana seperti smartphone. Pendekatan praktis ini bertujuan agar pengalaman yang diperoleh dapat segera diterapkan di unit kerja masing-masing.

Kegiatan pelatihan ini merupakan bagian dari upaya UNDIP untuk memperkuat kemampuan koordinator komunikasi publik sebagai ujung tombak dalam menyajikan konten digital yang tidak hanya menarik secara visual tetapi juga kaya substansi. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat citra universitas sebagai institusi yang adaptif, inovatif, dan memberikan dampak positif bagi masyarakat luas.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.