Media KampungDeni Maulana, mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya UGM, menjadi sorotan nasional setelah dinobatkan Mahasiswa Berprestasi (Mapres) 2026. Kisahnya bermula dari keluarga buruh tani di Cianjur dan ibu yang bekerja sebagai TKW di Yordania.

Kehilangan ayah pada usia remaja menjadi titik terberat bagi Deni, yang saat itu masih duduk di bangku SMA. Ayahnya hanya bekerja sebagai buruh tani serabutan, sedangkan ibunya telah merantau ke Yordania sejak Deni berumur enam tahun untuk menafkahi keluarga.

Karena keterbatasan ekonomi, Deni tak sempat mengikuti pendidikan taman kanak‑kanak dan harus beradaptasi dengan kehidupan sekolah dasar tanpa dukungan orang tua di rumah. Ibunya yang berada di luar negeri tetap mengirimkan uang, bahkan pada saat keuangan keluarga menipis ia diam‑diam menjual cincin kesayangan demi memastikan Deni tetap dapat bersekolah dan makan.

“Dari peristiwa itu saya belajar bahwa cinta seorang ibu tidak selalu berbentuk kata‑kata, tetapi pengorbanan yang sering kali tidak terlihat,” ujar Deni mengingatkan peristiwa itu pada Rabu (6/6).

Semangat belajar Deni terfokus pada sastra. Selama SMA ia aktif dalam kompetisi bahasa dan sastra, mengumpulkan lebih dari 200 penghargaan. Puncaknya adalah medali emas pada Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) baca puisi tingkat nasional, yang menjadi kunci utama lolosnya ke UGM melalui Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).

“Saya lolos di UGM melalui jalur SNBP. Salah satu yang membawa saya masuk UGM adalah karena saya menjadi peraih medali emas FLS2N Baca Puisi tingkat Nasional,” kata Deni.

Di UGM, Deni terdaftar sebagai mahasiswa semester enam angkatan 2023 dan menerima Beasiswa Indonesia Maju (BIM) yang menanggung seluruh biaya kuliah hingga lulus. Sejak semester pertama, ia menyewa kontrakan sederhana di Yogyakarta untuk dapat tinggal bersama ibunya yang kembali dari Yordania, menegaskan komitmen keluarga dalam perjuangannya.

Motivasi utama Deni dalam mengikuti Mapres adalah membuktikan bahwa latar belakang ekonomi tidak menghalangi mimpi besar. Ia menghabiskan lima semester membangun portofolio akademik dan non‑akademik, termasuk kompetisi internasional, organisasi, pengabdian masyarakat, serta mendirikan kelas bimbingan belajar puisi bernama Puisi Akademia.

Selama menempuh pendidikan, Deni mengumpulkan lebih dari 150 penghargaan di bidang akademik dan non‑akademik. Prestasi internasionalnya meliputi Winner International Korean Poetry Reading Contest (2025, Korea Selatan), 1st Place International Literature Festival Poetry Reading Competition (2024, Malaysia), 2nd Place International Malay Language Poetry Declamation Competition (2023), dan Grand Prize South Korea Global Start‑Up Idea Competition (2025).

Pengalaman berkompetisi di Korea Selatan memberinya jaringan internasional dan memperluas dampak inisiatif sosialnya. Di dalam Pilmapres, Deni mencantumkan enam prestasi internasional dan empat prestasi nasional sebagai bukti konsistensi dan kualitas karya.

“Kunci untuk sampai di titik ini bukan menjadi yang paling sempurna, tetapi yang paling konsisten untuk tetap melangkah,” ujar Deni saat menjelaskan tantangan terbesar dalam meraih Mapres.

Selain prestasi, Deni juga aktif sebagai kreator konten pendidikan, membagikan pengalaman masuk perguruan tinggi dan cara mendapatkan beasiswa. Ia membuka kelas bimbingan beasiswa gratis bagi ratusan siswa, memperkuat komitmen sosialnya.

Dalam menghadapi perundungan di masa kecil, Deni menjadikan pengalaman tersebut sebagai bahan bakar untuk berprestasi. “Saya pernah mendapatkan bullying, tapi saya ingin membuktikan dan membalasnya dengan prestasi,” katanya.

Orang‑orang di sekitarnya sempat meragukan kemampuan anak buruh tani untuk menembus UGM, namun Deni menegaskan bahwa mimpi tidak mengenal batasan latar belakang. “Mimpi tidak pernah salah. Yang salah hanya jika kita menyerah sebelum mencobanya,” tegasnya.

Menutup cerita, Deni mengingatkan mahasiswa lain agar tidak terintimidasi oleh kondisi keluarga. “Mimpi tidak pernah membedakan dari mana seseorang berasal. Percayalah bahwa rezeki yang tertakar tidak akan tertukar, dan mimpi yang dijaga dengan sabar akan menemukan jalannya untuk menjadi nyata,” pesannya.

Dengan dukungan beasiswa, pengorbanan ibunya, dan kerja keras yang konsisten, Deni Maulana kini menjadi contoh nyata bahwa pendidikan dapat mengubah nasib, bahkan bagi anak-anak yang lahir di lingkungan paling sederhana.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.