Media Kampung – Perpustakaan Nasional (Perpusnas) meluncurkan program strategis yang menitikberatkan pada pemberdayaan perempuan melalui peningkatan literasi, guna memperkuat peran publik perempuan di Indonesia.

Program ini dimulai pada 20 April 2024 dan difokuskan pada penyediaan materi bacaan, pelatihan menulis, serta workshop literasi di 30 perpustakaan daerah.

Data Badan Pusat Statistik 2023 menunjukkan tingkat melek huruf perempuan di wilayah perkotaan mencapai 96,2%, namun masih terdapat kesenjangan signifikan di daerah pedesaan.

Perpusnas menargetkan penurunan kesenjangan tersebut dengan menyalurkan 5.000 buku berbahasa Indonesia dan lokal serta modul pembelajaran digital.

Direktur Perpusnas, Siti Nurhaliza, menyatakan, “Literasi adalah kunci utama untuk memberdayakan perempuan sehingga mereka dapat berkontribusi lebih optimal dalam pembangunan nasional.”

Ia menambahkan bahwa program ini akan melibatkan tokoh perempuan inspiratif sebagai mentor, termasuk penulis, jurnalis, dan akademisi.

Setiap sesi workshop dirancang selama tiga jam, mencakup teknik membaca kritis, penulisan kreatif, dan penggunaan perpustakaan digital.

Peserta diharapkan dapat meningkatkan kemampuan menulis setidaknya 30% dalam tiga bulan pertama, berdasarkan evaluasi awal.

Selain itu, Perpusnas berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk mengintegrasikan materi literasi ke dalam kurikulum sekolah menengah.

Kerjasama ini memungkinkan guru mengadopsi modul khusus yang menekankan peran perempuan dalam sejarah literasi Indonesia.

Program tersebut juga menyediakan akses gratis ke perpustakaan digital yang berisi lebih dari 200.000 judul e‑book, khususnya karya penulis perempuan.

Statistik penggunaan platform digital menunjukkan peningkatan kunjungan perempuan sebesar 45% dibandingkan tahun sebelumnya.

Di tingkat daerah, Badan Perpustakaan Daerah Jawa Barat mencatat peningkatan pendaftaran anggota perempuan sebanyak 12.000 orang sejak peluncuran program.

Kegiatan pendampingan dilakukan oleh relawan literasi yang telah dilatih selama dua minggu, memastikan pelaksanaan yang konsisten dan berkelanjutan.

Pengukuran dampak jangka panjang akan dilakukan melalui survei tahunan yang meliputi indikator kemampuan membaca, menulis, serta partisipasi dalam kegiatan sosial.

Sejauh ini, respons masyarakat positif, dengan banyak perempuan yang menyatakan keinginan untuk memperluas jaringan literasi mereka.

Program ini diharapkan terus berlanjut hingga akhir 2025, dengan rencana penambahan 15 perpustakaan baru di wilayah timur Indonesia.

Dengan langkah konkret ini, Perpusnas berkomitmen menjadikan literasi sebagai fondasi utama pemberdayaan perempuan di seluruh nusantara.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.