Media Kampung – Puluhan ribu siswa Sumatera menargetkan lima kampus teratas di Indonesia, melampaui jumlah pendaftar asal pulau lain melalui jalur SNBT.

Data diambil dari situs resmi SNPMB dengan penarikan pola penerimaan sejak 2021 hingga 2025, menyoroti tren peningkatan minat mahasiswa Sumatera.

Kelima perguruan tinggi yang menjadi incaran adalah Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga, Institut Teknologi Bandung, dan Institut Pertanian Bogor.

Menurut hasil analisis, pendaftar asal Sumatera menunjukkan pertumbuhan rata‑rata 144,75 % dalam lima tahun terakhir, jauh di atas peningkatan nasional sebesar 104,5 %.

Provinsi Sumatera Utara konsisten memimpin dengan 18,99 % dari total peminat nasional pada 2025, diikuti provinsi lain di Pulau Sumatera.

Universitas Indonesia menjadi pilihan utama siswa Sumatera dengan 3.715 pendaftar, diikuti Universitas Gadjah Mada dengan 3.450 pendaftar.

Jurusan akuntansi menempati peringkat teratas di antara pilihan prodi, menarik 789 peminat dari Sumatera pada 2025.

Di samping akuntansi, jurusan hukum, kedokteran, serta program teknik perminyakan dan pertambangan di ITB juga populer.

Agus Suriadi, pengamat sosial USU, menjelaskan bahwa filosofi Batak “Anakkon Hi Do Hamoraon Di Au” mendorong orang tua berinvestasi besar pada pendidikan anak.

“Dalam budaya Batak, keluarga dan anak‑anak adalah pusat kehidupan, sehingga orang tua berusaha keras menyediakan pendidikan terbaik,” ujarnya.

Naufal Azmy, siswa SMAN 1 Medan, mengungkapkan tekad kuat untuk melanjutkan studi di Sekolah Bisnis Manajemen ITB dengan dukungan penuh orang tuanya.

“Saya mau ke ITB, selalu di‑support orang tua,” kata Naufal dalam wawancara.

Muhammad Faathir Rasya, siswa SMA lain dari Medan, menargetkan program psikologi di Universitas Indonesia dan menekankan bantuan finansial keluarga.

“Orang tua selalu support, memberi jalan dan memastikan biaya terpenuhi,” ujar Faathir.

Kebijakan beasiswa seperti KIP‑Kuliah, afirmasi daerah 3T, dan beasiswa swasta turut mempermudah akses siswa Sumatera ke kampus Jawa.

Gandes Retno, Direktur Pendidikan UGM, menyoroti Yogyakarta sebagai kota ramah pelajar dengan biaya hidup relatif rendah, sehingga menarik banyak peminat dari luar Jawa.

“Lokasi Yogyakarta, biaya hidup terjangkau, dan atmosfer akademik kuat menjadi faktor utama,” jelasnya.

Namun, Satriwan Salim dari P2G menegaskan tantangan utama adalah rendahnya partisipasi pendidikan tinggi di wilayah timur Indonesia.

“Anak‑anak di daerah timur belum berani membayangkan kuliah di UI, ITB, atau UGM karena kurangnya imajinasi dan akses,” katanya.

Data SNBT menunjukkan bahwa provinsi Sulawesi Barat mencatat pendaftar terendah, hanya 259 siswa, kontras dengan Sumatera Utara yang mencatat 14.042 pendaftar.

Peningkatan minat dari Indonesia Timur tetap di bawah, meskipun terjadi pertumbuhan lebih dari 100 % dalam lima tahun terakhir.

Provinsi Maluku dan Papua mencatat kenaikan pendaftar masing‑masing 79,32 % dan masih tertinggal dibandingkan Sumatera.

Para siswa Sumatera menganggap bahwa menempuh pendidikan di Jawa tidak hanya memberikan ilmu, tetapi juga jaringan dan peluang kerja yang lebih luas.

Pengamatan ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang menekankan pemerataan akses pendidikan tinggi melalui program beasiswa dan fasilitas pendukung.

Secara keseluruhan, tren menunjukkan bahwa budaya kuat, dukungan keluarga, dan kebijakan beasiswa berperan penting dalam meningkatkan jumlah siswa Sumatera yang menargetkan lima kampus teratas RI.

Kondisi terbaru menegaskan bahwa pada 2026, proses seleksi SNBT akan kembali berlangsung pada 21–30 April, dan ribuan siswa Sumatera diperkirakan akan kembali mengajukan pilihan ke universitas-universitas unggulan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.