Media Kampung – 18 April 2026 | Pemimpin yang Menghidupi: Suro Diro Joyo Jayadiningrat, Lebur Dening Pangastuti menjadi sorotan utama setelah kepala sekolah baru berhasil mengubah budaya keras di sebuah sekolah menengah di Yogyakarta pada April 2026.
Deni Candra Pamungkas, lulusan S1 Pendidikan Matematika dan S2 Magister Manajemen Universitas Sanata Dharma, menulis rangkaian laporan tentang perubahan tersebut pada 18 April 2026.
Sebelum kedatangan kepala sekolah baru, institusi tersebut dikenal dengan disiplin yang menekankan hukuman, aturan ketat, dan hubungan jauh antara guru dan siswa.
Kepala sekolah baru menekankan nilai cura personalis, menolak hukuman publik, dan memilih dialog pribadi sebagai langkah pertama.
Suatu pagi, seorang siswa tertangkap melanggar aturan berat dan menunggu keputusan yang biasanya berupa sanksi keras.
Alih‑alih menjatuhkan hukuman, sang kepala sekolah mengundang siswa itu berdiskusi, menanyakan latar belakang, dan menawarkan tanggung jawab yang konstruktif.
Hasilnya, guru‑guru mulai meniru pendekatan empatik, sementara siswa menunjukkan peningkatan partisipasi dan rasa aman dalam belajar.
Filosofi “Suro Diro Joyo Jayadiningrat, Lebur Dening Pangastuti” menggabungkan kekuatan kepemimpinan yang tegas dengan kelembutan hati yang menenangkan.
Bagian pertama menekankan keberanian, kemampuan memimpin, dan potensi besar, sedangkan bagian kedua menekankan kasih sayang, kebijaksanaan, dan kemampuan melunakkan amarah.
Dalam konteks pendidikan, kombinasi ini berarti menegakkan aturan tanpa menakuti, serta memberikan ruang bagi perkembangan emosional siswa.
“Kita harus menjadi pemimpin yang kuat namun tetap bersahabat, agar disiplin tidak berubah menjadi tirani,” ujar kepala sekolah dalam rapat guru pada 22 April 2026.
Hingga akhir April, sekolah melaporkan penurunan insiden pelanggaran sebesar 35 % dan peningkatan kepuasan guru serta siswa yang diukur melalui survei internal.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan