Media Kampung – Kabupaten Jember semakin mengukuhkan posisinya sebagai pusat investasi pasar modal di kawasan Tapal Kuda. Hingga April 2026, jumlah investor pasar modal di Jember tercatat menembus 163 ribu orang, menjadikannya daerah dengan jumlah investor terbanyak di wilayah kerja Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jember.
Capaian tersebut sejalan dengan pertumbuhan investor pasar modal yang terus meningkat di wilayah Tapal Kuda. OJK Jember mencatat jumlah investor tumbuh 62,76 persen secara tahunan, menandakan semakin tingginya minat masyarakat terhadap instrumen investasi seperti saham, obligasi, dan reksa dana.
Literasi Keuangan Masyarakat Meningkat
Kepala OJK Jember Aris Budiman menilai tren tersebut menunjukkan peningkatan literasi dan inklusi keuangan masyarakat. Menurutnya, semakin banyak warga yang mulai memanfaatkan investasi sebagai sarana pengembangan aset dan perencanaan keuangan jangka panjang.
“Kalau kita bicara pasar modal, di bulan April 2026 ini pertumbuhan jumlah investor itu luar biasa, mencapai 62,76 persen. Artinya masyarakat di wilayah kerja OJK Jember semakin melek investasi,” katanya, Sabtu, 27 Juni 2026.
Pertumbuhan Investor Merata, Lumajang Catat Kenaikan Tertinggi
Meski Jember menjadi daerah dengan jumlah investor terbesar, pertumbuhan investor tertinggi justru terjadi di Lumajang yang mencapai 80,96 persen. Kondisi ini menunjukkan tren investasi mulai berkembang merata di berbagai daerah dan tidak hanya terpusat di satu wilayah.
Sektor Perbankan dan Pembiayaan Juga Tumbuh
Selain pasar modal, OJK juga mencatat perkembangan positif sektor perbankan. Penyaluran kredit Bank Perkreditan Rakyat (BPR) masih didominasi Banyuwangi, disusul Jember dan Situbondo. Namun, risiko kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) tertinggi tercatat di Lumajang sebesar 22,99 persen.
Di Jember sendiri, rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) BPR mencapai 136,01 persen atau tertinggi di wilayah kerja OJK Jember. Angka tersebut menunjukkan penyaluran kredit yang lebih besar dibandingkan penghimpunan dana masyarakat. “LDR paling tinggi untuk BPR ada di Jember, yakni 136,01 persen. Artinya penghimpunan dananya masih kurang dibanding penyaluran kredit yang dilakukan,” ujarnya.
Sementara itu, sektor perusahaan pembiayaan atau leasing juga menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 9,49 persen secara tahunan. Banyuwangi dan Jember menjadi dua daerah dengan nilai pembiayaan terbesar, masing-masing mencapai Rp2,02 triliun dan Rp2,01 triliun.
Tak hanya itu, industri asuransi juga masih berada dalam kondisi sehat. OJK mencatat rasio premi terhadap klaim untuk asuransi jiwa mencapai 207,9 persen, sedangkan asuransi umum sebesar 219,15 persen. Rasio yang berada jauh di atas 100 persen tersebut menunjukkan kemampuan perusahaan asuransi dalam memenuhi kewajiban klaim kepada nasabah masih sangat baik.
OJK Imbau Masyarakat Waspada Investasi Ilegal
OJK berharap meningkatnya jumlah investor dan pertumbuhan sektor jasa keuangan dapat menjadi modal penting dalam memperkuat perekonomian daerah. Namun, masyarakat tetap diingatkan untuk meningkatkan literasi keuangan dan berhati-hati terhadap berbagai bentuk investasi ilegal yang masih berpotensi merugikan masyarakat.
“Semakin banyak masyarakat yang berinvestasi menunjukkan kesadaran pengelolaan keuangan yang semakin baik. Ini menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi daerah yang lebih kuat dan berkelanjutan,” pungkas Aris.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan