Media Kampung – Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB-TNBTS) memberikan klarifikasi terkait insiden kericuhan yang melibatkan petugas ticketing dan sejumlah pemandu wisata di Pos Pemeriksaan Wonokitri, Pasuruan, pada Sabtu (27/6) dini hari. Peristiwa bermula dari adu mulut akibat perbedaan jumlah tiket dengan wisatawan yang dibawa pemandu.

Kepala BB-TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha menjelaskan bahwa insiden dipicu saat petugas melakukan verifikasi data pengunjung. Beberapa tiket yang dibawa pemandu wisata tidak sesuai dengan jumlah pengunjung yang akan masuk kawasan. Situasi memanas ketika pemandu wisata mengajak pengemudi lain untuk tidak mengikuti prosedur pemeriksaan, termasuk memasuki kawasan tanpa pemindaian QR code.

Ketegangan meningkat menjadi kericuhan disertai kekerasan fisik. Petugas BB-TNBTS yang dibantu personel Marinir TNI AL mendapat tekanan dari ratusan pemandu wisata dan wisatawan. Salah satu petugas diduga memukul pemandu wisata setelah menerima provokasi dan penyerangan. Rudijanta menyebut tindakan itu sebagai respons spontan untuk membela diri dan menghentikan serangan.

Setelah kondisi mereda, aktivitas pelayanan kembali normal. Namun pada pagi hari, terjadi kericuhan susulan di area pintu masuk. Petugas dan unsur pengamanan segera melakukan pengendalian situasi agar pelayanan tetap berjalan. Mediasi digelar di Kantor Resort PTN Gunung Penanjakan yang difasilitasi Polsek Tosari Pasuruan pada pukul 06.21 WIB. Para pihak sepakat menyelesaikan masalah secara kekeluargaan dan saling memaafkan.

Rudijanta mengapresiasi dukungan Polsek Tosari, unsur pengamanan, dan koordinator pelaku jasa wisata. Ia juga menjelaskan bahwa kehadiran personel Marinir TNI AL di beberapa pintu masuk bertujuan membantu keamanan karena lonjakan wisatawan, mengingat kekurangan personel BB-TNBTS. Pihaknya mengimbau masyarakat menyikapi informasi secara bijak dan tidak menyebarkan potongan video yang tidak utuh agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.