Media Kampung – Di sebuah rumah sederhana di Dusun Kalimati, Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar, Banyuwangi, aroma kopi robusta menguar dari tangan Fredi Hadi Prianto yang tengah meracik kopi sachet bermerek “Kopi Syahdu“. Usaha yang ia jalankan ini lahir dari kegigihan dan perjuangan panjang menghadapi berbagai tantangan sejak awal membuka kedai kopi kecil pada tahun 2020 lalu.
Fredi, pria asal Surabaya yang lahir pada 14 September 1978, memulai usahanya dengan modal Rp15 juta untuk menyewa tempat dan membeli bahan baku kopi serta makanan ringan. Setelah pulang bekerja di perusahaan swasta, ia membuka kedainya setiap sore hingga malam hari. Namun, kesibukan yang melelahkan membuat kedainya perlahan berhenti beroperasi bukan karena kehilangan pelanggan, melainkan keterbatasan tenaga dan waktu.
Pada tahun 2024, Fredi menemukan sisa kopi bubuk yang hampir tidak terpakai dan memutuskan untuk mengemasnya dalam bentuk sachet agar lebih praktis dan mudah dipasarkan. Awalnya, ia memasarkan produk ini kepada teman, relasi, dan komunitas yang sudah mengenalnya. Respon positif dari lingkaran kecil tersebut mendorongnya terus mengembangkan usaha kopi racikannya.
Nama “Kopi Syahdu” dipilih untuk memberikan kesan yang tenang dan akrab bagi para penikmat kopi. Produk ini dikemas dalam kotak berisi 10 sachet dengan harga berkisar antara Rp45 ribu hingga Rp80 ribu. Pemasaran dilakukan secara sederhana namun konsisten melalui jaringan relasi yang dibangun Fredi lewat berbagai kegiatan komunitas dan sosial di Banyuwangi.
Kedai kopi Fredi sering menjadi tempat berkumpul komunitas motor, mobil, serta lokasi kegiatan sosial seperti sosialisasi HIV dan narkoba. Dalam sejumlah kesempatan, ia menyediakan kopi gratis sebagai bentuk dukungan sosial. Bagi Fredi, kopi bukan sekadar produk dagangan, melainkan media untuk mempererat hubungan antar manusia.
Strategi pemasaran berbasis relasi itu mulai membuahkan hasil. “Kopi Syahdu” kini dikenal hingga ke luar Banyuwangi dan telah dipasarkan ke kota-kota seperti Surabaya, Bali, Malang, Mojokerto, Tangerang, dan Bekasi. Keberhasilan ini juga didukung oleh legalitas usaha yang telah diperoleh seperti Nomor Induk Berusaha (NIB), Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT), dan sertifikasi halal.
Fredi mengakui bahwa dukungan pemerintah daerah melalui pendampingan UMKM sangat membantu perkembangan usahanya. Meski demikian, ia menilai masih banyak pelaku UMKM yang membutuhkan pendampingan lebih dalam manajemen usaha dan pemasaran agar bisa bersaing secara lebih luas. “Produk bagus saja tidak cukup kalau tidak tahu cara memasarkannya,” ujarnya.
Dalam perjalanan usahanya, Fredi juga mendapat dorongan dari orang-orang terdekat, termasuk dua rekannya, Novian dan Danny, yang terus membantunya membangun kepercayaan diri dalam mengembangkan usaha. Meskipun omzet “Kopi Syahdu” saat ini sekitar Rp2 juta per bulan, Fredi memandang angka tersebut sebagai pijakan awal untuk terus tumbuh dan berkontribusi pada masyarakat.
Fredi berharap suatu saat nanti usahanya dapat membuka lapangan kerja bagi warga sekitar dan menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk berani memulai usaha dari hal kecil. Perjuangan dan ketekunan Fredi dalam mengelola “Kopi Syahdu” menunjukkan bagaimana semangat dan inovasi sederhana mampu menjaga asa dan membangun masa depan dari Muncar.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan