Media Kampung – Laga pembuka Grup I Piala Dunia 2026 antara Prancis dan Senegal di MetLife Stadium, New York, Selasa (16/6) dinihari WIB, bukan sekadar pertandingan sepak bola. Bagi Senegal, pertemuan ini memiliki dimensi historis dan simbolis yang mendalam, terutama setelah pernyataan Ketua Parlemen Senegal, Othman Sonko, yang menyebut bahwa siapa pun pemenangnya, ‘Afrika akan mengalahkan Afrika’.

Sonko merujuk pada banyaknya pemain timnas Prancis yang memiliki darah keturunan Afrika. Menurutnya, laga ini membuka kembali diskusi tentang identitas, imigrasi, dan hubungan antara Afrika dan Barat. Ia juga menekankan bahwa Afrika harus percaya pada potensi besar sumber daya alam dan manusianya.

Di sisi teknis, pelatih Senegal Pape Thiaw menurunkan skuad terbaiknya. Idrissa Gana Gueye yang pulih dari cedera menjadi starter di lini tengah bersama Pape Gueye dan Lamine Camara. Kapten Kalidou Koulibaly juga kembali memperkuat pertahanan setelah sembuh dari cedera, berduet dengan Moussa Niakhaté. Sadio Mané akan menjadi motor serangan bersama Nicolas Jackson dan Ismaila Sarr.

Prancis, yang datang sebagai salah satu favorit juara, harus mewaspadai ‘hantu’ kekalahan di laga pembuka Piala Dunia 2002 lalu, saat sebagai juara bertahan mereka takluk 0-1 dari Senegal. Pelatih Didier Deschamps tetap mempertahankan stabilitas dengan menurunkan William Saliba yang sempat mengalami masalah punggung di lini belakang, serta memilih Désiré Doué di lini serang ketimbang Rayan Cherki atau Bradley Barcola.

Pertandingan ini juga menjadi ujian awal bagi format baru Piala Dunia 48 tim, di mana dua tim teratas每组 dan delapan peringkat ketiga terbaik akan lolos ke babak 16 besar. Grup I sendiri juga dihuni Irak dan Norwegia, sehingga hasil laga ini akan sangat menentukan langkah kedua tim.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.