Media Kampung – Liga MX, liga sepak bola tertinggi di Meksiko, kembali menjadi sorotan setelah keputusan kontroversial mempertahankan sistem tanpa promosi dan degradasi antara Liga MX dan Liga de Expansión memicu protes dari klub-klub divisi bawah dan penggemar sepak bola.
Keputusan Liga MX untuk menutup pintu bagi tim-tim dari Liga de Expansión akibat pandemi Covid-19 dan tidak mengaktifkan kembali promosi serta degradasi setelah enam tahun menimbulkan ketegangan yang cukup besar. Klub-klub dari Liga de Expansión seperti Leones Negros Universidad de Guadalajara, Atlético Morelia, Atlético La Paz, Cancún FC, dan Mineros de Zacatecas menolak keputusan ini dan melayangkan gugatan ke Tribunal Arbitral de Deportes (TAS).
Menurut putusan TAS, Liga MX seharusnya membuka kembali sistem promosi dan degradasi setelah enam tahun, namun federasi sepak bola Meksiko memilih tetap mempertahankan sistem tertutup dengan alasan adanya kesenjangan ekonomi dan organisasi yang terlalu besar antara kedua liga. Presiden Liga MX, Francisco Iturbide, menyatakan klub-klub Liga de Expansión belum memiliki stabilitas finansial dan infrastruktur yang memadai untuk otomatis promosi ke Liga MX.
Salah satu alasan utama Liga MX menolak promosi dan degradasi adalah rencana untuk menerapkan sentralisasi hak siar media. Saat ini, setiap klub memiliki kebebasan menjual hak siar pertandingan kandang mereka secara terpisah, yang menyebabkan pertandingan Liga MX tersebar di sebelas saluran televisi dan platform streaming berbeda. Dengan sentralisasi, liga berharap dapat meningkatkan harga hak siar dan mendistribusikan pendapatan secara lebih merata antar klub.
Meskipun Liga MX menutup sistem promosi dan degradasi, mereka memberi kesempatan bagi klub-klub dari Liga de Expansión untuk bergabung ke Liga MX apabila memenuhi kriteria finansial dan infrastruktur yang ketat. Hal ini sudah dimanfaatkan oleh klub Atlante yang membeli lisensi dari Mazatlán FC untuk bermain di Liga MX.
Keputusan ini menimbulkan reaksi keras dari klub dan pemain Liga de Expansión. Pada pertandingan Atlético Morelia melawan Correcaminos, pemain Morelia melakukan aksi protes dengan mengenakan kaos hitam bertuliskan “Futbol pertenece a todos. Sí al ascenso” (Sepak bola milik semua orang. Ya untuk promosi). Para pemain juga menutup mulut mereka dan membelakangi kamera sebagai bentuk penolakan terhadap kebijakan ini. Para suporter pun turut mendukung dengan meneriakkan slogan “Ascenso, ascenso” (Promosi, promosi).
Protes semacam ini bukan yang pertama kali terjadi. Beberapa klub Liga de Expansión sebelumnya pernah menunjukkan ketidakpuasan dengan memainkan pertandingan tanpa berusaha mencetak gol untuk menyoroti hilangnya makna kompetitif liga tanpa adanya kesempatan promosi.
Selain kontroversi sistem promosi, Liga MX juga tengah menjalani kompetisi yang ketat antara klub-klub besar. Contohnya, pertandingan mendatang antara Atlético de San Luis melawan Monterrey yang merupakan duel seimbang antara dua tim dengan sejarah pertemuan yang cukup dekat. Pertandingan ini menjadi bagian dari upaya klub-klub Liga MX mempertahankan daya saing di tengah dinamika liga yang terus berkembang.
Di sisi lain, perkembangan positif juga terlihat pada generasi muda sepak bola Meksiko dengan panggilan pemain muda berbakat seperti Benji Flowers, pemain muda keturunan Meksiko-Amerika yang bergabung dengan tim nasional U-16 Meksiko. Flowers yang berafiliasi dengan FC Dallas dan telah menandatangani pra-kontrak dengan Chelsea, menunjukkan potensi besar yang diharapkan dapat menguatkan masa depan sepak bola Meksiko.
Dengan semua dinamika ini, Liga MX berada pada persimpangan penting terkait pengelolaan liga dan pengembangan sepak bola nasional. Keputusan mengenai sistem kompetisi dan pengelolaan hak media akan sangat menentukan arah dan kualitas kompetisi di masa depan, serta keseimbangan antara keberlanjutan finansial dan sportivitas dalam sepak bola Meksiko.














