Media KampungFIFA mengumumkan dua aturan baru untuk Piala Dunia 2026 yang memungkinkan wasit memberi kartu merah kepada pemain yang menutup mulut saat berdebat atau melakukan walk‑out sebagai bentuk protes terhadap keputusan wasit.

Aturan pertama menargetkan gestur menutup mulut yang dianggap dapat menimbulkan kecurigaan atau menambah ketegangan di lapangan. Jika seorang pemain menutup mulutnya dalam situasi konfrontatif dengan lawan, wasit berhak mengeluarkan kartu merah secara langsung.

Aturan kedua memperkuat sanksi terhadap walk‑out, yakni meninggalkan lapangan secara paksa untuk mengekspresikan ketidakpuasan. Pemain atau ofisial yang melakukan aksi tersebut akan langsung diusir dan dapat didiskualifikasi dari turnamen.

Keputusan ini diambil dalam pertemuan Dewan FIFA di Vancouver pada 29 April 2026, bertepatan dengan persiapan finalisasi format turnamen yang akan melibatkan 48 tim, tiga kali lipat dari edisi sebelumnya.

Piala Dunia 2026 akan diselenggarakan secara bersama di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, dimulai 11 Juni hingga 19 Juli 2026, dengan total 80 pertandingan di 16 stadion.

Presiden FIFA Gianni Infantino menjelaskan alasan kebijakan tersebut dalam sebuah pernyataan resmi: “Jika seorang pemain menutup mulutnya dan mengatakan sesuatu yang bersifat rasis atau tidak sportif, maka ia harus diusir, tentu saja. Kebijakan ini bertujuan melindungi sportivitas dan menegakkan integritas kompetisi.”

Infantino menambahkan bahwa aturan ini merupakan bagian dari upaya FIFA untuk memberantas perilaku diskriminatif yang sering tersembunyi di balik gestur menutup mulut, mengingat insiden yang melibatkan Vinícius Júnior di Liga Champions pada Februari lalu menjadi pemicu utama.

Selain aturan kartu merah, FIFA juga mengubah regulasi akumulasi kartu kuning. Mulai fase gugur, satu kartu kuning yang diterima pada fase grup tidak lagi dihitung, sehingga pemain hanya berisiko tersingkir setelah menerima dua kartu kuning dalam tiga pertandingan tertentu.

Perubahan tersebut diharapkan mengurangi jumlah pemain yang absen pada tahap penting turnamen akibat akumulasi kartu kuning, sekaligus memberi ruang bagi tim untuk menurunkan formasi terbaik tanpa harus mengkhawatirkan sanksi disiplin yang berlebihan.

Penghapusan kartu kuning akan kembali diberlakukan setelah perempat final, memastikan bahwa fase kritis tetap menuntut kedisiplinan tinggi.

Para pelatih dan kapten tim diharapkan menyiapkan strategi komunikasi yang lebih terbuka di lapangan, mengingat tindakan menutup mulut kini dapat berakibat fatal bagi peluang mereka melanjutkan turnamen.

Kepala Tim Nasional Indonesia, Indra Sjafri, menyatakan kesiapan skuadnya untuk mematuhi aturan baru tersebut: “Kami akan melatih pemain untuk mengekspresikan keberatan secara verbal dan tetap menghormati keputusan wasit, tanpa menutup mulut atau melakukan walk‑out.”

Pengamat sepak bola internasional, John Smith, menilai kebijakan ini sebagai langkah progresif yang menegaskan komitmen FIFA terhadap anti‑rasisme dan fair play, meski ia mengingatkan bahwa pelaksanaan harus konsisten dan tidak mengganggu dinamika pertandingan.

Saat ini, FIFA tengah menyelesaikan prosedur finalisasi aturan tersebut bersama International Football Association Board (IFAB) dan akan memasukkannya ke dalam regulasi resmi sebelum peluncuran resmi pada Konferensi Pers di Zurich pada akhir Mei 2026.

Jika semua persiapan berjalan lancar, aturan baru ini akan menjadi bagian integral dari turnamen pertama yang memperluas partisipasi hingga 48 negara, sekaligus menjadi contoh kebijakan disiplin yang dapat diadopsi pada kompetisi internasional lainnya.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.