Media Kampung – Asia Tenggara kembali menghadapi ancaman kabut asap lintas batas yang parah pada sisa tahun 2026. Singapore Institute of International Affairs (SIIA) dalam laporan Haze Outlook 2026 yang dirilis Rabu (24/6/2026) menetapkan status risiko Merah—tingkat tertinggi—bagi empat negara: Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Puncak ancaman diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September.
Penyebab Utama: El Nino dan IOD
Kombinasi fenomena El Nino dan Dipol Samudra Hindia (Indian Ocean Dipole/IOD) fase positif memicu kondisi cuaca lebih panas dan kering di berbagai wilayah Asia Tenggara. Kondisi ini meningkatkan frekuensi serta intensitas kebakaran hutan dan lahan, yang menjadi sumber utama kabut asap lintas batas.
Faktor Ekonomi Memperbesar Risiko
Selain faktor cuaca, tekanan ekonomi dan pasar global turut memperbesar risiko kebakaran lahan. Meningkatnya permintaan terhadap komoditas pertanian dan bahan bakar nabati berpotensi mendorong pembukaan lahan baru apabila tidak dikelola secara berkelanjutan. SIIA menekankan pentingnya pengelolaan lahan yang bertanggung jawab untuk mengurangi risiko.
Seruan Penguatan Kerja Sama ASEAN
SIIA mendorong penguatan kerja sama antarnegara anggota ASEAN, peningkatan pendanaan untuk pencegahan kebakaran hutan dan lahan, serta implementasi kebijakan pengendalian kabut asap yang lebih efektif. Langkah-langkah tersebut menjadi kunci untuk mengurangi risiko krisis kabut asap lintas batas yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat dan perekonomian kawasan.
Ini merupakan kali kedua SIIA mengeluarkan status risiko Merah sejak penilaian tahunan Haze Outlook pertama kali diluncurkan pada 2019. Peringatan ini menjadi alarm bagi seluruh negara di kawasan untuk segera mengambil tindakan pencegahan terpadu guna meminimalkan dampak lingkungan, kesehatan, dan ekonomi akibat kabut asap.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan