Media Kampung – Kediri – Menjadi tua adalah kepastian yang tidak bisa dihindari oleh setiap manusia. Namun, menjadi dewasa bukanlah otomatis mengikuti usia. Dalam Kajian Mutiara Pagi RRI Kediri pada Selasa, 23 Juni 2026, Ustadz Dr. Ahmad Fakhruddin F.I, M.Th.I, CDAI., pengasuh Pondok Pesantren Darul Qawaid, Tawar, Jombang, sekaligus Dosen Prodi KPI UNHASY, menegaskan bahwa kedewasaan membutuhkan hati yang bersih.
“Setiap manusia tidak ada yang bisa melawan waktu dan takdir. Setiap hari sejatinya kita bukan merayakan pertambahan umur, namun merayakan semakin berkurangnya umur di dunia. Menjadi tua dengan dewasa merupakan hal yang berbeda,” ujar Ustadz Fakhruddin. Ia mencontohkan banyak orang yang sudah berusia lanjut namun belum memiliki sikap, cara berpikir, dan pengambilan keputusan yang matang.
Menurutnya, kedewasaan seseorang tidak diukur dari angka usia, melainkan dari kemampuan merespons masalah, pengambilan keputusan, dan kualitas mental. Usia yang bertambah adalah takdir, sementara dewasa adalah ikhtiar. “Allah SWT menjelaskan dalam surat Ar-Rum ayat 54 bahwa manusia melewati tahapan kehidupan hingga usia tua. Ayat ini menunjukkan bahwa menjadi tua adalah ketetapan Allah yang tidak bisa dihindari. Namun menjadi dewasa merupakan pembersihan hati, pengendalian diri, dan perbaikan akhlak,” ungkapnya.
Ustadz Fakhruddin juga mengingatkan sabda Nabi Muhammad SAW bahwa baik buruknya perilaku seseorang bergantung pada hatinya. “Hati menjadi poros setiap langkah. Jika hati baik, maka akan tercermin pada perilaku kita,” jelasnya. Kajian ini mengajak umat untuk tidak hanya menua secara fisik, tetapi juga tumbuh dewasa secara batiniah dengan menjaga kebersihan hati dan akhlak mulia.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan