Media Kampung – Arsenal kunci sejarah baru, waktunya Inggris geser hattrick Italia musim 1989/1990 [titlebase]. Ungkapan ini sangat tepat untuk menggambarkan perjuangan dan pencapaian Arsenal di final Liga Champions musim 2025/2026 yang berlangsung di Puskás Aréna, Budapest pada Sabtu (30/5/2026) malam WIB. Meski akhirnya harus mengakui keunggulan Paris Saint-Germain (PSG) lewat adu penalti, kiprah Arsenal di kompetisi ini membuka lembaran baru bagi sepak bola Inggris yang berpeluang menggeser dominasi Italia di era akhir 1980-an dan awal 1990-an.

Final Liga Champions musim ini mempertemukan Arsenal, wakil Inggris yang tengah berjuang keras, melawan juara bertahan PSG asal Prancis. Arsenal yang sejak awal tampil agresif langsung membuka keunggulan cepat berkat gol spektakuler Kai Havertz pada menit keenam. Pemain asal Jerman ini mencetak gol dengan tendangan kaki kiri dari sudut sempit setelah memanfaatkan bola pantul dari sapuan Marquinhos yang membentur Leandro Trossard. Gol ini menjadi catatan sejarah penting karena menjadikan Havertz sebagai pemain pertama yang mencetak gol di final Liga Champions dengan dua klub Inggris berbeda, setelah sebelumnya mencetak gol di final bersama Chelsea pada musim 2020/2021.

Keunggulan yang diraih Arsenal memberikan momentum dan harapan besar bagi tim asuhan Luis Enrique untuk mengakhiri paceklik gelar di kompetisi tertinggi Eropa. Pertahanan disiplin Arsenal yang dikomandoi Gabriel Magalhaes dan William Saliba sukses mematahkan dominasi penguasaan bola PSG yang mencapai lebih dari 70 persen di babak pertama. Meski PSG terus menekan, lini belakang The Gunners tetap solid dan mampu menggagalkan berbagai peluang berbahaya, termasuk tekel krusial Gabriel terhadap Khvicha Kvaratskhelia.

Namun, drama final semakin memanas ketika PSG berhasil menyamakan skor melalui eksekusi penalti Ousmane Dembele di babak kedua. Hingga waktu normal dan perpanjangan waktu berakhir, skor 1-1 tetap bertahan sehingga penentuan juara harus melalui adu penalti. Di babak ini, Arsenal harus menelan pil pahit setelah dua eksekutor mereka, Eberechi Eze dan Gabriel Magalhaes, gagal menjalankan tugas dengan sempurna, sementara PSG hanya satu kali gagal lewat Nuno Mendes yang tendangannya berhasil ditepis David Raya. Skor akhir adu penalti 4-3 untuk kemenangan PSG.

Meski gagal menjadi juara, Arsenal kunci sejarah baru, waktunya Inggris geser hattrick Italia musim 1989/1990 [titlebase] ini tetap menjadi catatan penting dalam perjalanan sepak bola Inggris di Eropa. Kegagalan Arsenal di final Liga Champions 2025/2026 ini menambah daftar kutukan yang dialami klub tersebut di tahun yang berakhiran angka enam, setelah sebelumnya juga gagal juara di final 2006 melawan Barcelona. Namun, performa gemilang dan pencapaian bersejarah Kai Havertz serta solidnya pertahanan Arsenal menjadi bukti nyata bahwa Inggris mulai bangkit dan siap menggeser dominasi Italia yang pernah mengukir hattrick gelar Liga Champions pada musim 1989/1990-an.

Sejarah mencatat bahwa dominasi Italia di era tersebut menjadi tolak ukur bagi klub-klub Inggris untuk kembali berjaya di kompetisi tertinggi Eropa. Arsenal kini menjadi simbol kebangkitan tersebut dengan kiprah yang luar biasa dan berpotensi menjadi pionir bagi klub-klub Inggris lainnya untuk menorehkan prestasi gemilang di masa mendatang.

Dengan semangat dan pengalaman berharga yang didapat dari final ini, Arsenal diharapkan dapat terus memperbaiki diri dan membawa sepak bola Inggris kembali ke puncak kejayaan di pentas Liga Champions. Arsenal kunci sejarah baru, waktunya Inggris geser hattrick Italia musim 1989/1990 [titlebase] menjadi bukti bahwa masa depan cerah menanti sepak bola Inggris di kancah Eropa.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.