Media Kampung – Dalam dunia keamanan pangan, konsep FAT TOM menjadi acuan penting untuk memahami faktor-faktor yang mendukung pertumbuhan bakteri pada makanan. Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah faktor mana yang berkaitan langsung dengan kadar air. Jawabannya adalah moisture, atau kelembapan.
FAT TOM merupakan akronim dari Food (makanan), Acidity (keasaman), Time (waktu), Temperature (suhu), Oxygen (oksigen), dan Moisture (kelembapan). Dari keenam faktor ini, moisture secara spesifik mengacu pada jumlah air yang tersedia dalam makanan, yang dikenal sebagai aktivitas air (Aw). Semakin tinggi aktivitas air, semakin besar peluang mikroorganisme untuk tumbuh dan berkembang biak.
Pakar keamanan pangan dari FSNS menjelaskan bahwa aktivitas air merupakan indikator ketersediaan air yang dapat dimanfaatkan oleh bakteri. Oleh karena itu, makanan dengan kadar air tinggi seperti daging segar, ikan, susu, buah-buahan, dan sayuran cenderung lebih cepat rusak dibandingkan makanan kering. Hal ini karena bakteri membutuhkan air untuk proses metabolisme dan reproduksi.
Untuk mengendalikan risiko kerusakan dan kontaminasi, para profesional keamanan pangan menekankan pentingnya pengendalian kadar air. Beberapa strategi efektif meliputi penyimpanan pada suhu yang tepat—makanan mudah rusak sebaiknya disimpan di bawah 4°C, sementara makanan panas di atas 60°C. Metode pengeringan atau dehidrasi, penambahan garam atau gula untuk mengurangi aktivitas air, penggunaan kemasan kedap udara, serta menjaga kelembapan ruang penyimpanan tetap rendah juga menjadi langkah penting.
Dengan memahami bahwa moisture adalah faktor FAT TOM yang berhubungan dengan kadar air, pelaku usaha kuliner, mahasiswa teknik pangan, dan masyarakat umum dapat lebih waspada dalam menjaga keamanan pangan. Semakin tinggi kadar air, semakin besar risiko kerusakan dan kontaminasi bakteri, sehingga pengendalian kelembapan menjadi kunci utama dalam memperpanjang umur simpan produk pangan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.




Tinggalkan Balasan