Media Kampung – Madiun – Praktik judi online semakin marak di Indonesia seiring kemudahan akses digital. Psikolog Aulia Andaryati, S.Psi., M.Psi., mengungkapkan bahwa kecanduan judi online mengikuti siklus yang sulit diputus, dimulai dari rasa penasaran hingga dorongan untuk terus bermain meski sudah merugi.
Faktor Pemicu Kecanduan Judi Online
Menurut Aulia, seseorang bisa terjerumus ke dalam judi online karena beberapa faktor, antara lain:
- Rasa penasaran dan ingin mencoba-coba.
- Pengaruh lingkungan pertemanan.
- Ketertarikan terhadap iklan yang dikemas menarik dengan warna mencolok dan janji keuntungan besar.
- Kesulitan ekonomi yang membuat seseorang berharap mendapat uang cepat.
“Awalnya ada yang coba-coba, penasaran melihat teman bermain, atau tergoda oleh iklan yang tampil menarik,” ujar Aulia dalam dialog di Pro2 RRI Madiun.
Siklus Kecanduan yang Sulit Diputus
Sistem judi online dirancang agar pemain terus kembali. Saat menang, pemain merasakan kesenangan dan ingin mengulang pengalaman tersebut. Sebaliknya, saat kalah muncul dorongan untuk bermain lagi demi menutup kerugian. Kondisi ini menciptakan lingkaran setan yang membuat pemain semakin bergantung meskipun telah mengalami banyak kerugian.
“Saat seseorang sudah masuk ke dalam judi online, ia bisa terjebak dalam lingkaran yang sulit dihentikan. Karena itu, pencegahan harus dilakukan sedini mungkin,” tegas Aulia.
Dampak Psikologis dan Sosial
Kecanduan judi online tidak hanya menyebabkan kerugian finansial, tetapi juga berdampak pada kesehatan mental dan hubungan sosial. Aulia menyebutkan beberapa dampak yang sering muncul:
- Kecemasan dan rasa bersalah.
- Overthinking atau pikiran berlebihan.
- Konflik dengan keluarga dan orang terdekat.
Pentingnya Pencegahan dan Edukasi
Masyarakat diimbau untuk lebih waspada terhadap promosi judi online di media digital. Edukasi mengenai risiko kecanduan dan dampak psikologis perlu terus diperkuat agar masyarakat tidak mudah terjebak. “Dampaknya bukan hanya kehilangan uang, tetapi juga muncul kecemasan, rasa bersalah, overthinking, hingga konflik dengan keluarga,” pungkas Aulia.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan