Media Kampung – Praktisi peternakan asal Australia, Richard Armstrong Slansy, menegaskan bahwa program integrasi sapi dan kelapa sawit (SISKA) harus benar-benar menguntungkan secara ekonomi dan mampu dijalankan dalam skala besar, bukan sekadar konsep teknis atau proyek percontohan. Pernyataan ini disampaikan dalam 3rd Integrated Cattle and Oil Palm (ICOP) Conference yang digelar awal April 2026 di Jakarta, sebagaimana dilaporkan InfoSAWIT.

Menurut Slansy, kebutuhan Indonesia akan tambahan populasi sapi mencapai jutaan ekor untuk mendekati swasembada daging. Namun, angka tersebut hampir mustahil dicapai jika hanya mengandalkan pendekatan parsial. “Kalau ini hanya jadi konsep atau hobi, tidak akan mengubah apa-apa,” ujarnya tegas.

Slansy, yang seluruh kariernya ditempa di sektor swasta, menekankan bahwa satu-satunya indikator keberhasilan integrasi sawit-sapi adalah ongkos produksi per kilogram daging. “Semua KPI itu penting, tapi pada akhirnya yang menentukan adalah biaya produksi,” katanya. Ia mengkritik bahwa proyek-proyek SISKA yang ada masih terlalu kecil untuk menggerakkan jarum neraca daging nasional.

Meski demikian, berdasarkan berbagai studi dan pengalaman lapangan, biaya produksi dalam sistem SISKA ternyata lebih rendah dibandingkan sapi impor dari Australia yang selama ini menjadi pemasok utama sapi bakalan Indonesia. Artinya, secara ekonomi SISKA sebenarnya memiliki peluang, namun belum terealisasi karena skala implementasi yang terbatas.

Slansy mengungkapkan fakta bahwa meskipun ada beberapa proyek besar, jumlahnya belum mampu menutup defisit daging yang telah berlangsung puluhan tahun. Ia mendorong agar program ini tidak hanya berhenti sebagai konsep, melainkan dijalankan secara massif dan berorientasi pada keuntungan nyata.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.