Media Kampung – Terapi cahaya merah memang sudah menjadi standar emas dalam perawatan kulit dan kebugaran. Namun, tahukah Anda bahwa ada varian baru yang mulai dilirik para ahli? Green light therapy atau terapi cahaya hijau kini hadir sebagai alternatif yang menjanjikan untuk mengatasi masalah kulit seperti hiperpigmentasi, kemerahan, dan warna kulit tidak merata.
Apa Itu Green Light Therapy?
Green light therapy adalah bentuk photobiomodulation yang menggunakan cahaya tampak dalam spektrum hijau, umumnya pada panjang gelombang 520 hingga 560 nanometer. Menurut dermatolog Shereen Teymour, terapi ini bekerja dengan mengantarkan energi cahaya ke kulit tanpa menimbulkan panas berlebih atau kerusakan jaringan.
Berbeda dengan terapi cahaya merah yang fokus pada stimulasi kolagen dan anti-aging, cahaya hijau lebih diarahkan untuk memperbaiki tampilan permukaan kulit. “Jika terapi cahaya merah identik dengan stimulasi kolagen dan efek anti-aging, terapi cahaya hijau mulai menarik perhatian karena potensinya dalam membantu mengatur produksi pigmen berlebih dan meningkatkan kejernihan kulit secara keseluruhan,” ujar Shereen.
Manfaat Green Light Therapy untuk Kulit
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa terapi cahaya hijau dapat membantu mengurangi hiperpigmentasi, bintik penuaan, rosacea, kemerahan, hingga pembuluh kapiler yang tampak di permukaan kulit. Pada tingkat seluler, cahaya hijau mendukung fungsi mitokondria untuk mempercepat perbaikan jaringan sekaligus mengurangi peradangan.
Meski demikian, para dermatolog memandang terapi ini sebagai pelengkap perawatan lain, bukan solusi tunggal dengan hasil dramatis. “Pasien yang menggunakan terapi cahaya hijau sering melaporkan bahwa kulit mereka tampak lebih cerah, tenang, dan merata seiring waktu,” tambah Shereen.
Manfaat Lain: Meredakan Migrain dan Nyeri Kronis
Penelitian dari University of Arizona menemukan bahwa paparan cahaya hijau secara konsisten dapat mengurangi frekuensi dan intensitas sakit kepala hingga 50 persen. Peserta dalam studi tersebut juga mampu mengurangi penggunaan obat-obatan. Namun, hasil ini baru terlihat setelah sekitar 10 minggu penggunaan setiap hari.
Terapi cahaya hijau juga menunjukkan potensi dalam mengelola nyeri kronis seperti fibromyalgia dan nyeri neuropatik, meski masih diperlukan uji klinis berskala besar.
Perbedaan dengan Red Light Therapy
Perbedaan utama terletak pada panjang gelombang dan kedalaman penetrasi. Cahaya merah memiliki dukungan bukti ilmiah lebih kuat untuk stimulasi kolagen dan penyembuhan luka, serta mampu menembus lapisan kulit lebih dalam. Sementara cahaya hijau bekerja lebih superfisial dan efektif untuk masalah pigmentasi serta warna kulit tidak merata.
Kedua terapi ini dapat saling melengkapi. “Jika cahaya merah paling identik dengan manfaat anti-aging, maka cahaya hijau lebih erat kaitannya dengan perbaikan tampilan kulit dan peningkatan kejernihan complexion,” jelas Shereen.
Cara Penggunaan dan Efek Samping
Sebagian besar perangkat di rumah merekomendasikan penggunaan 3–5 kali per minggu dengan durasi 10–20 menit per sesi. Hasil optimal biasanya terlihat setelah 4–6 minggu pemakaian rutin. Terapi cahaya hijau relatif aman dengan efek samping ringan seperti kemerahan atau iritasi sementara. Namun, tidak dianjurkan bagi individu dengan gangguan fotosensitivitas atau yang sedang mengonsumsi obat pemicu sensitivitas cahaya.
Bagi penderita migrain yang dipicu cahaya, konsultasi dengan dokter terlebih dahulu sangat disarankan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan