Media KampungBuah dewandaru, yang dikenal dengan nama ilmiah Eugenia uniflora, mulai menarik perhatian masyarakat dan peneliti berkat kandungan gizinya yang kaya serta potensi manfaat kesehatannya. Buah tropis yang juga disebut ceremai ini belum sepopuler mangga atau jambu, namun telah lama dikenal di berbagai daerah di Indonesia sebagai tanaman pekarangan dan memiliki nilai budaya tersendiri.

Dikutip dari berbagai sumber, buah dewandaru berasal dari Amerika Selatan, khususnya Suriname dan Brasil, dan kini telah banyak dibudidayakan di negara tropis termasuk Indonesia. Bentuknya unik dengan lekukan menyerupai labu mini, dan warnanya berubah dari hijau, kuning, oranye, hingga merah cerah saat matang. Rasanya merupakan perpaduan manis dan asam yang menyegarkan.

Selain sebagai buah konsumsi, dewandaru juga menyimpan mitos yang erat kaitannya dengan Gunung Kawi. Pohon dewandaru di kompleks Pemakaman Eyang Djoego dan Eyang Sujo—tokoh bhayangkara terdekat Pangeran Diponegoro—dipercaya sebagai pertanda akan terjadinya peristiwa besar. Nama “dewandaru” konon berasal dari “Dewa Aru”, yang diyakini berasal dari tongkat Eyang Djoego yang ditancapkan ke tanah. Para peziarah sering menunggu jatuhnya bagian pohon seperti dahan, buah, atau daun untuk dijadikan azimat.

Dari segi kesehatan, berbagai penelitian menunjukkan bahwa buah dewandaru kaya akan vitamin A, vitamin C, mineral seperti kalium, magnesium, fosfor, serta senyawa antioksidan seperti flavonoid dan karotenoid. Kandungan tersebut berperan melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas. Penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Sains Materi Indonesia menyebutkan bahwa ekstrak buah dewandaru memiliki aktivitas antioksidan yang berpotensi memberikan efek antihiperglikemik, antihiperlipidemik, neuroprotektif, antibakteri, dan antiinflamasi.

Beberapa manfaat yang dikaitkan dengan konsumsi dewandaru antara lain membantu meningkatkan daya tahan tubuh berkat vitamin C, mendukung kesehatan mata karena kaya vitamin A dan beta-karoten, membantu menjaga tekanan darah melalui efek diuretik alami, serta berpotensi menjaga kesehatan pencernaan dan melawan mikroorganisme penyebab penyakit. Namun, para ahli mengingatkan bahwa sebagian besar manfaat tersebut masih memerlukan penelitian lebih lanjut pada manusia dan tidak dapat dijadikan pengganti pengobatan medis.

Selain dikonsumsi langsung, dewandaru juga mulai diolah menjadi manisan kering. Penelitian dari Universitas Negeri Malang menunjukkan bahwa buah dewandaru mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, saponin, dan tanin yang tetap dapat ditemukan pada produk olahannya. Hal ini membuka peluang pemanfaatan dewandaru sebagai produk pangan bernilai tambah.

Dengan potensi besar sebagai sumber antioksidan alami, buah dewandaru layak mendapat perhatian sebagai salah satu kekayaan hayati Indonesia yang dapat mendukung pola makan sehat dan pengembangan produk pangan lokal. Meskipun masih diperlukan penelitian lebih lanjut, dewandaru menawarkan prospek menjanjikan di bidang pangan fungsional dan kesehatan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.