Media Kampung – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kini melacak lebih dari 80 penumpang pesawat yang sempat berada dalam satu kabin dengan korban meninggal hantavirus, memperluas fokus penanganan wabah di luar kapal pesiar.
Wanita Belanda tersebut melanjutkan perjalanannya dengan pesawat ke Johannesburg pada keesokan harinya, namun kondisinya terus memburuk selama penerbangan. Setibanya di unit gawat darurat rumah sakit di Johannesburg pada 26 April, ia dinyatakan meninggal dunia setelah hasil tes pada 4 Mei mengonfirmasi infeksi hantavirus.
Hantavirus merupakan penyakit zoonotik yang ditularkan dari hewan pengerat, khususnya tikus, ke manusia. WHO sebelumnya telah menyoroti kemungkinan penularan antar‑manusia, dan kasus pada kapal pesiar MV Hondius menambah kekhawatiran akan penyebaran di ruang tertutup seperti kabin pesawat.
“Pelacakan kontak terhadap para penumpang dalam penerbangan tersebut telah dimulai,” kata pernyataan resmi WHO. WHO menegaskan bahwa seluruh penumpang dan awak kabin harus segera melapor ke otoritas kesehatan setempat untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Maskapai Airlink, yang mengoperasikan satu penerbangan mingguan antara Saint Helena dan Johannesburg dengan durasi sekitar empat jam empat puluh lima menit, menerima permintaan dari otoritas kesehatan Afrika Selatan untuk menghubungi semua penumpang. Perwakilan Airlink, Karin Murray, menyampaikan bahwa maskapai sedang mengirimkan pesan teks dan email kepada para penumpang, meminta mereka mengisi formulir kesehatan dan melakukan tes jika diperlukan.
Kapal pesiar MV Hondius pada saat itu berlayar dari Argentina menuju Cape Verde, namun ditolak berlabuh di wilayah Cape Verde karena khawatir akan penyebaran wabah. Kapal tersebut kemudian memperoleh izin berlabuh di Kepulauan Canaria, Spanyol, sebelum melanjutkan perjalanan ke Afrika Barat.
Penelusuran WHO tidak hanya berfokus pada kapal pesiar, melainkan juga pada rute penerbangan yang melibatkan penumpang yang berpotensi terpapar virus. Selama proses pelacakan, otoritas kesehatan di Afrika Selatan menginstruksikan rumah sakit dan klinik setempat untuk waspada terhadap gejala serupa, termasuk demam tinggi, nyeri otot, dan gangguan pernapasan.
Sejauh ini, belum ada laporan kasus penularan hantavirus di antara penumpang lain atau awak kabin yang menguji positif. Namun, WHO menekankan pentingnya pemantauan ketat selama masa inkubasi yang dapat berkisar antara satu hingga tiga minggu.
Kejadian ini menambah daftar insiden hantavirus yang melibatkan penumpang pesawat, menegaskan perlunya prosedur karantina dan protokol kebersihan yang ketat dalam transportasi udara internasional. WHO berjanji akan terus memperbarui informasi seiring dengan hasil investigasi dan tes lanjutan.
Jika ada penumpang yang mengalami gejala serupa dalam 14 hari ke depan, mereka dianjurkan segera menghubungi layanan kesehatan lokal dan memberi tahu riwayat perjalanan terbaru, termasuk penerbangan dari Saint Helena.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan