Media Kampung – Sebanyak 718 warga berhasil menjalani operasi katarak gratis di Kantor PMI Banyuwangi pada periode 28 April hingga 2 Mei 2024, menandai kelanjutan program kesehatan mata yang telah berlangsung selama lebih dari satu dekade.
Kegiatan ini merupakan bagian dari kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Palang Merah Indonesia, dan John Fawcett Foundation.
Sejak diluncurkan pada tahun 2014, program layanan mata gratis ini telah menyentuh lebih dari 4.500 warga, memperbaiki penglihatan dan meningkatkan produktivitas masyarakat.
Pada edisi kali ini, pendaftaran mencapai 718 orang, dengan target awal 300‑350 pasien, namun antusiasme melampaui perkiraan.
Operasi dilakukan selama lima hari, dimulai Selasa 28 April dan berakhir Sabtu 2 Mei, dengan dua lokasi pelaksanaan, yaitu Markas PMI Banyuwangi dan RSUD Blambangan.
Tim medis terdiri dari 7 dokter spesialis mata, 32 tenaga medis, serta relawan dari Dinas Kesehatan, PMI, dan berbagai sektor terkait.
Selain operasi katarak, program juga menyediakan pemeriksaan mata gratis bagi 1.500‑2.000 orang, penanganan 151 kasus refraksi, dan pemasangan bola mata palsu bagi 15 pasien.
Sekretaris Daerah Banyuwangi, Guntur Priambodo, mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada PMI dan John Fawcett Foundation atas konsistensi layanan ini.
“Kami sangat berterima kasih kepada PMI Banyuwangi dan John Fawcett Foundation yang terus konsisten memberikan layanan ini,” ujar Guntur pada pembukaan acara.
Guntur menambahkan bahwa program ini tidak hanya mengembalikan penglihatan, tetapi juga berpotensi meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarga penerima manfaat.
Dandim 0825 Banyuwangi, Letkol (Arm) Triyadi Indrawijaya, turut hadir menandai dukungan militer terhadap upaya kesehatan masyarakat.
Ketua JFF Indonesia, I Gede Bingin, menegaskan komitmen yayasan untuk terus mendukung upaya pemerintah Kabupaten Banyuwangi menanggulangi kebutaan akibat katarak.
“Kami berharap kerja sama ini dapat terus berlanjut dan senantiasa memberikan manfaat nyata dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat,” tegas Bingin.
JFF Australia Board Member dr. Joss Meyer juga mengekspresikan kegembiraannya berpartisipasi dalam aksi kemanusiaan di Indonesia.
“Ini merupakan bentuk kolaborasi nyata antara Australia, Indonesia, John Fawcett Foundation, dan masyarakat Banyuwangi,” kata dr. Joss.
Salah satu penerima operasi, Sayunah, 52 tahun, warga Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro, mengaku menderita katarak pada mata kiri selama tiga tahun.
“Saya sangat bersyukur bisa ikut operasi karena pelayanan ini gratis. Ini sangat membantu warga seperti saya,” ujar Sayunah penuh harap.
Kasus lain melibatkan M. Misbahul Munir, 32 tahun, warga Tulungagung, yang menempuh perjalanan jauh demi pemasangan bola mata palsu kedua kalinya.
Munir menjelaskan kecelakaan kerja saat terkena percikan las menyebabkan kerusakan mata, dan ia menemukan informasi program lewat Facebook.
“Saya sangat bersyukur ada program ini. Biaya pemasangan bola mata palsu di rumah sakit dapat mencapai Rp 15 juta, jadi bantuan ini sangat berarti,” ungkapnya.
Pemasangan bola mata palsu dilakukan oleh tim spesialis dengan standar internasional, memastikan kenyamanan dan estetika bagi penerima.
Seluruh proses, mulai dari pendaftaran, pemeriksaan, hingga pasca operasi, dikelola secara terintegrasi oleh PMI dan mitra medis.
Data resmi menunjukkan bahwa sejak 2014, lebih dari 4.500 operasi katarak telah berhasil diselesaikan, menurunkan angka kebutaan lokal secara signifikan.
Program ini juga memberikan pelatihan singkat kepada tenaga kesehatan lokal, memperkuat kapasitas layanan mata di wilayah tersebut.
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi berencana memperluas cakupan program ke desa‑desa terpencil pada tahun mendatang.
Target jangka panjang adalah menurunkan prevalensi kebutaan karena katarak hingga di bawah 1% di wilayah provinsi.
Keberhasilan edisi kali ini menjadi bukti efektivitas model kemitraan antara pemerintah, lembaga kemanusiaan, dan sektor swasta.
Para relawan melaporkan bahwa proses operasional berjalan lancar tanpa komplikasi signifikan, berkat persiapan matang.
Dengan berakhirnya kegiatan pada 2 Mei, tim medis kini melakukan evaluasi hasil operasi dan menyiapkan laporan akhir untuk sponsor.
Harapan semua pihak adalah program ini dapat berkelanjutan, menjangkau lebih banyak warga yang membutuhkan layanan mata gratis.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan