Media Kampung – Fenomena yang dulu hanya muncul di episode serial distopia Black Mirror kini menjadi kenyataan. Semakin banyak orang menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk ‘berbincang’ dengan anggota keluarga yang telah meninggal, dan para ilmuwan mulai meneliti dampak emosional dari praktik ini.

Layanan berbasis AI, seperti yang ditawarkan oleh startup StoryFile atau HereAfter AI, memungkinkan pengguna untuk membuat avatar digital dari orang yang telah meninggal berdasarkan rekaman suara, foto, dan data pribadi lainnya. Pengguna kemudian dapat mengajukan pertanyaan dan menerima respons yang terdengar alami, seolah-olah mereka sedang berbicara dengan almarhum.

Baca juga:

Mengapa Ini Penting?

Penggunaan AI untuk ‘menghidupkan kembali’ orang yang telah meninggal menimbulkan pertanyaan etis dan psikologis yang serius. Di satu sisi, teknologi ini dapat membantu proses berduka dengan memberikan kesempatan untuk ‘mendengar’ suara orang yang dicintai lagi. Namun, di sisi lain, para ahli khawatir bahwa hal ini justru dapat menghambat penerimaan kehilangan dan menciptakan ketergantungan emosional yang tidak sehat.

Peneliti dari universitas terkemuka, termasuk MIT dan University of Cambridge, kini mulai melakukan studi sistematis untuk mengukur dampak jangka panjang dari interaksi semacam ini. Mereka meneliti bagaimana otak merespons ‘percakapan’ dengan AI yang meniru orang yang sudah meninggal, serta apakah hal ini memengaruhi proses kesedihan alami.

Baca juga:

Dampak Emosional yang Sedang Diteliti

Studi awal menunjukkan bahwa pengguna seringkali melaporkan perasaan lega dan terhibur setelah menggunakan layanan ini. Namun, beberapa partisipan juga mengalami peningkatan kecemasan dan kesedihan ketika sesi berakhir. Para peneliti khawatir bahwa teknologi ini dapat menciptakan ‘zona abu-abu’ antara kehidupan dan kematian, yang berpotensi membingungkan persepsi realitas pengguna.

Selain itu, ada kekhawatiran tentang privasi data. Untuk membuat avatar yang realistis, perusahaan AI membutuhkan akses ke sejumlah besar data pribadi almarhum, yang dapat disalahgunakan jika tidak dikelola dengan baik.

Baca juga:

Dari Fiksi ke Realitas

Serial Black Mirror mengeksplorasi tema ini dalam episode berjudul “Be Right Back”, di mana seorang wanita menggunakan AI untuk ‘menghidupkan kembali’ pacarnya yang meninggal. Kini, apa yang dulu dianggap fiksi ilmiah menjadi kenyataan yang harus dihadapi masyarakat. Para ahli etika mendesak perlunya regulasi yang jelas untuk memastikan teknologi ini digunakan secara bertanggung jawab.

Seiring penelitian terus berlanjut, publik diimbau untuk berhati-hati dalam menggunakan layanan semacam ini. Konsultasi dengan psikolog atau konselor duka sangat disarankan sebelum memutuskan untuk menggunakan AI sebagai alat bantu berduka.