Media Kampung – Saham Nvidia dan Arm Holdings melonjak tajam setelah peluncuran prosesor komputer baru yang dianggap revolusioner. Nvidia memperkenalkan RTX Spark, sebuah superchip yang menggabungkan GPU Blackwell yang kuat dengan CPU Grace berbasis arsitektur Arm, di konferensi teknologi COMPUTEX di Taipei, Taiwan.

RTX Spark dirancang untuk mendukung agen AI pada PC Windows, hasil kolaborasi Nvidia dengan Microsoft. Chip ini menawarkan efisiensi energi terdepan di industri, memori cepat, serta teknologi grafis berperforma tinggi. CEO Microsoft, Satya Nadella, menyatakan bahwa RTX Spark merupakan terobosan penting menuju visi menghadirkan kecerdasan tak terbatas ke setiap rumah dan meja kerja dengan Windows.

Perangkat ultra-tipis dan desktop kompak yang menggunakan RTX Spark dari merek seperti Dell, HP, Lenovo, dan ASUS dijadwalkan rilis pada musim gugur mendatang. Nvidia menargetkan pasar CPU dengan nilai hingga 200 miliar dolar AS, bersaing langsung dengan Intel dan Advanced Micro Devices (AMD). Dominasi Nvidia di pasar GPU dan ekosistem pengembang yang kuat diperkirakan akan memperkuat posisi perusahaan dalam perebutan pangsa pasar CPU.

Sementara itu, di Amerika Serikat, beberapa kota di Tennessee tengah mempertimbangkan pembatasan pembangunan pusat data untuk melindungi lingkungan pemukiman dari dampak fasilitas industri skala besar yang mendukung pemrosesan AI. Metro Nashville, misalnya, mengusulkan aturan zonasi yang melarang pembangunan pusat data hyperscale lebih dari 500.000 kaki persegi di wilayah tersebut dan menetapkan jarak aman dari rumah, sekolah, taman, serta institusi penting lainnya. Aturan ini juga mewajibkan penggunaan sistem pendingin tertutup yang mendaur ulang air dan membatasi penggunaan generator cadangan untuk mengurangi polusi udara.

Di sisi lain, perubahan aturan visa pelajar di Amerika Serikat dapat menyulitkan lulusan dari India untuk tetap bekerja setelah menyelesaikan studi, terutama melalui jalur Optional Practical Training (OPT) dan Curricular Practical Training (CPT). Departemen Keamanan Dalam Negeri AS mengusulkan penghapusan kerangka “Duration of Status” bagi visa pelajar F-1 dan menggantinya dengan periode tetap maksimal empat tahun, sehingga memperketat perpanjangan izin tinggal dan kerja pasca-studi. Kebijakan ini berpotensi memperburuk kekurangan tenaga ahli di sektor teknologi dan AI.

Sementara itu, mantan pejabat Google X, Mo Gawdat, memperingatkan bahwa dalam tiga tahun ke depan, AI akan mengganggu seluruh dunia dengan dampak besar pada lapangan kerja, ekonomi, dan tatanan sosial. Ia menyatakan bahwa kecerdasan buatan tingkat umum (AGI) kemungkinan sudah mulai muncul atau akan segera hadir, yang bisa menghilangkan jutaan pekerjaan terutama di bidang pengetahuan tingkat awal. Gawdat menekankan perlunya kesiapan pemerintah dan masyarakat untuk menghadapi perubahan besar ini agar dapat meminimalkan potensi kerusuhan sosial dan dampak negatif lainnya.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.